Status*
By wawan on Sep 4, 2009 | In Serbasuka, Fenomena | 3 feedbacks »
Ada yang perlu diwaspadai terkait “status” di internet. Yang saya maksud status ini bukan status perkawinan atau yang di facebook disebut “relationship status”. Status kali ini adalah status apa yang isinya adalah “state” atau keadaan seseorang pada saat tertentu. Di antara layanan-layanan yang punya fitur status adalah YM, Facebook, Twitter (mikro blogging), dan baru-baru ini Multiply juga punya. Kenapa dia perlu diwaspadai? Karena di praktik nulis status itu ada benih-benih krisis tanggung jawab.
To the point saja, cara nytatus termasuk terjangkiti virus krisis tanggung jawab ini adalah yang pemilik accountnya seolah-olah tidak berbicara kepada siapapun. Tunggu dulu, tidak semua orang menulis status dengan gaya begini. Tapi banyak sekali status yang isinya adalah ngomong sendiri, atau dalam bahasa Goenawan Mohamad: menggumam. Dia menulis tentang isu-isu yang hangat di sosial. Atau memberikan respon, lebih tepatnya. Dia kadang-kadang bikin respon yang keras atau respon yang konyol atau respon yang nggak berguna. Tapi, yang bahaya adalah respon-respon keras dan menyakitkan hati itu.
Itulah yang jadi masalah kedua: jika respon keras yang seolah-olah hanya digumamkan itu ternyata ditujukan kepada orang-orang yang terhubung dan memiliki akses untuk membacanya. Jadinya, di sini akan terasa sebuah hasrat ingin bilang sesuatu secara keras tapi tidak berani langsung menghadapkan wajah ke arah orang yang dituju dengan respon keras macam itu. Inilah yang saya bilang ada virus krisis tanggung jawab. Status ini hanya menjadi ekstensi dari sikap picik kurang bertanggung jawab. Di sinilah menurut saya salah satu sisi negatif dari salah satu barang dagangan terlaris dasawarsa ini: internet social network.
Memang sih banyak guna social networking atau status semacam ini, salah satunya adalah untuk promosi berita, seperti twitter yang dipakai banyak media massa untuk menjadi corong ringkasan berita-berita terkininya. Tapi kita juga harus awas, jangan sampai temuan yang mestinya bisa dimaksimalkan kegunaannya macam ini malah jadi cawan petri pembiakan sikap picik dan virus krisis tanggung jawab.
* Oh, lagi-lagi kok kayak catatan pinggir ya judul postingan kita kali ini?
3 comments
tapi memang status ini yang kadang-kadang menjadi belati bersisi dua, sisi yang satu tajam untuk melukai musuh, sisi yang satunya lagi tajam mengiris diri sendiri. sama halnya dengan status di jejaring sosial, selain bisa menjadi media promosi dan ajang curhat, bisa juga melukai diri sendiri dan membuat tambah stress. ada penelitian di daerah sampeyan mas, yang pernah menyampaikan bahwa 7 dari 10 remaja yang stress menjadi depresi setelah melakukan posting status tentang masalah mereka, hal ini disebabkan karena komentar-komentar tadi yang sampeyan katakan 'tanpa' tanggung jawab, bukan menyelesaikan masalah, tapi malah memperparah. Akhir kata, selamat berakhir pekan, tetap semangat dan 'mada mada dane'
waduh-waduh-waduh... piye iki mog? dunia sudah aneh.
Ada beberapa kawan yang sungguh aktif mengganti statusnya sampai-sampai kita tahu every move they make: "lagi jengkulitan di kasur", ato " sedang mandi air anget".
Kadang memang capek membaca status2 ga penting itu, tapi kadang kita bisa tahu pribadi orang hanya dr jenis status mereka. Contohnya, orang yang hidupnya terpusat pada cinta dan romantisme pasti statusnya melulu seputar pacarnya: "sayaaang, dimana sih..kangen deh"; seorang aktivis akan menulis: " demonstrasi besar di Pittsburgh gara2 G20" dsb...
hehehhe...btw, blog e keren mas. piye tho carane.
Leave a comment
| « District 9: Fiksi yang Mulai Mengklaim Wilayah Fakta | Klaim » |

