Apa Hubungannya Literatur Amerika dengan Revolusi dsb?
By wawan on Aug 25, 2008 | In Sastra | 3 feedbacks »
Oke, setelah menceritakan secuil tentang sastra (atau diterjemahkan literatur saja ya?
) Amerika pada awal-awal masa kelahirannya, sekarang kita akan mengulas dikit tentang apa kaitan antara literatur Amerika ini dengan revolusi bangsa (yang saat itu masih baru) tersebut.
Sebentar, sepertinya di sini kita perlu sedikit menyela. Saya agak ragu-ragu menerjemahkan 'literature' menjadi sastra pada titik ini. Sebab, sebagaimana saya dan Anda semua ketahui (setiap kali saya mendengar orang ngomong 'sebagaimana kita ketahui', saya merasakan ada kesan sok tahu gitu loh, tapi mohon maaf kalau saya menggunakan itu, sungguh, nggak ada niat sok tahu di sini
), kata 'literature' itu pada masa-masa yang lalu, dan pada masa-masa sekarang dalam sejumlah tulisan yang sangat terbatas, tidak hanya mengacu pada 'sastra' yang lebih menitikberatkan pada kebukanfaktaan saja. Kata 'literature' lebih mengacu ke segala bentuk karya tulis atau karya pemikiran yang dituangkan lewat tulisan. Jadi ya... hmmm... apa mulai sekarang kita pakai istilah 'kepustakaan' saja ya?
Oke deh, sekarang kata "literature" di tahap ini sementara akan saya terjemahkan menjadi 'kepustakaan'.
Oh, btw, kali ini saya tetap membahas karyanya Carl Van Doren What is American Literature loch.
Nah, kepustakaan punya hubungan yang cukup erat dengan revolusi di Amerika Serikat. Begini latar belakangnya, pada sekitar periode 1700-an itu, orang-orang koloni Inggris yang tinggal di Amerika mulai "disibukkan dengan urusan Amerika" dan semakin bisa mandiri dan tak lagi kemanthil ke Inggris. Bahkan, mereka "semakin hilang kesabaran menghadapi pemerintah di London yang di mata mereka tampak sebagai pemerintah yang kaku dan nggak bisa diajari". Setelah konflik-konflik awal dengan pemerintah pusat dalam hal "administrasi dan perpajakan," mereka pun bertekad untuk mengarahkan pemberontakan itu hingga mencapai kemerdekaan.
Di sinilah kepustakaan berperan, lewat tangan Thomas Paine, seorang terpelajar yang pada awalnya merupakan orang yang gagal di Inggris namun diajak oleh Benjamin Franklin untuk pindah ke Philadelphia dan menjadi penulis pamflet pengobar semangat yang sangat efektif. Dengan karyanya yang berjudul Common Sense, Paine menegaskan kembali pentingnya keterbebasan dari cengkeraman pemerintah Inggris, juga bahwasanya "koloni-koloni itu tidak pernah berhutang terlalu banyak kepada bangsa induk mereka, dan [pada saat itu] mereka tak punya sepeser pun hutang", dan "pemisahan diri merupakan kewajiban moral". Nah... siapa cobak nggak panas mendengar pamflet semacam itu? Saking pentingnya peran karya tulisan Paine ini, van Doren sampai bilang "to him, more than any other single man, must be credited the drift, if it was not a flood, of sentiment for the independence which rose to the Declaration in July 1776". Selanjutnya, masih dengan nada membakar semangat para pengharap kemerdekaan, Paine dalam rentetan karya pamfletnya yang dijuduli "American Crisis" kembali menegaskan bahwa (saya parafrasekan saja ya) konstitusi Amerika sangat besar artinya bagi kebebasan sebagaimana grammar yang sangat besar artinya bagi bahasa. Begitu deh.
Selanjutnya, masih dalam kaitannya dengan Revolusi Amerika, tibalah saat generasi Revolusi yang, menurut van Doren, sebagian besar dari para penulis generasi Revolusi ini hanya mengulang-ulang tema yang diusung oleh dua Thomas, yakni Paine dan Jefferson. Karya-karya mereka banyak berkutat soal masalah publik dan politik, pokoknya hal-hal yang sifatnya sangat kontekstual dengan jaman itu saja, dan otomatis tidak lagi penting untuk dibaca saat ini, kecuali oleh para sejarawan yang pingin menyeriusi ihwal jaman itu.
Setelah orang-orang terlalu tenggelam dalam kepustakaan yang banyak berurusan dengan fakta, hadirlah sosok yang bernama Washingon Irving yang menulis fiksi. Karya-karyanya, terutama dari serial Diedrich Knickerbocker, penuh warna namun tetap menunjukkan keanggunan. Dia juga meninggalkan karya-karya yang tetap dibaca orang semacam kisah Rip Van Winkle. Keceriaan dan kekocakan dalam karya-karyanya membuat orang Eropa maupun Amerika terpesona, karena sungguh berbeda dengan kepustakaan yang cenderung mengajak mengerutkan dahi pada masa itu.
"Kalau Irving humoris," begitu tulis van Doren saat mengawali bagian tentang penulis lain, "James Fenimore Cooper adalah penulis romantis." Dia membuat kisah-kisah epik yang sangat menggugah, mengangkat heroisme, mengusuk kritikan. Dia mengkritik bahwa dada "perubahan-perubahan yang membikin keajaiban menjadi lebih buruk." Dia menggebrak jamannya dengan hikayat Leather-Stocking, seorang tokoh yang disegani baik di kalangan orang Amerika keturunan Eropa maupun para penduduk asli Amerika. Ada sebuah kalimat van Doren yang mungkin bisa membantu memahami sifat karya Cooper: "Saat Cooper menuturkan kisah-kisahnya, Amerika seolah bersikap gagah namun welas asih (apa ya terjemahan kata 'gallant' yang enak untuk konteks ini?
) kepada para Indian yang telah kalah dan mati, seperti halnya sikap seorang pemenang kepada musuh yang telah dia kalahkan, ketika si musuh tak lagi mengancam." Dengan kisah inilah, Cooper mengkritik tanpa memperdebatkan esensi dari seorang yang ideal, tapi dengan memberikan contoh sifat-sifat seorang yang wajib jadi panutan.
Sementara begitu dulu... Semoga saja saya nggak lupa dengan apa yang saya tulis ini. Hehehe...
3 comments
Leave a comment
| « Mulai Masuk Masa Penghasil Klasik | Awal Sastra Amerika » |
