Awal Sastra Amerika
By wawan on Aug 23, 2008 | In Sastra | Send feedback »
Nah, Borges kita sela sebentar, sekarang mari kita ngomong soal American Literature. Kali ini, di hadapan saya ada buku kecil "What Is American Literature?" karya Carl van Doren(tentu saja, saya pilih buku ini karena tipis, huahahahaha... tapi belakangan saya temukan dari ensiklopedi Britannica bahwa van Doren ini termasuk orang kuat penyusun sejarah sastra Amerika ).
Kita bahas deh mulai bab I. Bab ini menarasikan bagaimana awal kisah hidup sastra di Amerika. Oke, atas nama kejujuran akademis
, saya bilang saja deh semua yang tertulis di bawah ini saya ambil dari bukunya van Doren itu.
Sastra Amerika ternyata merupakan satu-satunya sastra penting dunia yang lahir setelah penemuan mesin cetak. Ini yg unik. Kalau semua sastra penting dunia diawali sejak jaman oral, tradisi lisan, mulai dari trubadur, penutur cerita keliling, maupun pujangga istana, sastra Amerika tidak demikian halnya. Oopss, saya pikir di sini van Doren memaksudkan sastra Amerika sebagai sastra yang dibikin di Amerika dengan bahasa Inggris.
Pada awalnya, tulisan-tulisan Amerika adalah tulisan yang dibuat orang-orang untuk mengisahkan kehidupan mereka di dunia baru (ingat kan, kata Buku Pintar, Amerika "ditemukan" oleh Christopher Colombus pada tahun 1492?). Tulisan-tulisan awal itu biasanya berupa catatan harian kehidupan (ya... semacam blog tapi manual lah
) yang dibuat dengan tujuan untuk dibaca orang-orang yang ada di Eropa. Tulisan-tulisan Amerika itu dinilai berdasarkan kadar kebagusan mereka menggambarkan Amerika, dan keindahan sastrawi sama sekali tidak dijadikan pertimbangan. Kata van Doren "nggak ada drama, nggak ada fiksi, hanya sedikit puisi dan itu pun nggak ada yang bagus, dan hanya jurnalisme yang baru bertunas (btw, ini saya terjemahkan dari 'beginnings of journalism' lho hehehe..)".
Kelak, orang-orang Amerika ini mulai menanamkan pandangan miring kepada Eropa. Mereka mulai menganggap Eropa sebagai kawasan yang terlalu sesak. Mereka menganggap orang-orang Eropa adalah orang yang "terkungkung" untuk mengikuti nilai-nilai budaya yang mereka warisi dari nenek moyang mereka, sementara para penghuni baru Amerika ini adalah individu yang bebas untuk menentukan nilai-nilai mereka sendiri. Pendeknya (ini simpulan van Doren yang sangat asyik menurut saya), orang Eropa adalah keturunan (dari nenek moyang mereka), tapi orang Amerika adalah leluhur (dari anak cucu mereka)
.
Maka, kali ini tujuan tulisan pun lebih untuk menarik tenaga dan modal dari Eropa ke Amerika. Mereka ini mengangankan pegunungan dan pedesaan Amerika sebagai bakal pusat kemajuan dan ibukota di masa yang akan datang.
Hanya di New England saja ada literatur yang cukup bagus. Di New England, orang-orang sangat erat dengan buku. Nah, karena (menurut van Doren) "book breed books", maka orang-orang New England pun melahirkan karya dari bidang masing-masing, "yang tentara menulis tentang perang, para eksekutif menceritakan administasi mereka, para misionaris menceritakan upaya mereka...". Dari lingkungan inilah muncul pencatat hidup sehari-hari yang tajam, penyair yang lumayan lebih baik, dan lain-lain. Secara umum, nuansa literatur New England saat itu Puritanis.
Kelak, dari Boston lahir seorang pemikir muda bernama Jonathan Edwards, yang merangkap sebagai ilmuan, metafisikus, mistikus, dan santo(?). Edwards ini seorang pemikir yang relijius dan mendasarkan segala pemikirannya pada Tuhan. Sampai-sampai, dia menjunjung tinggi pandangan "predestination", bahwa semua yang dibumi ini diatur dengan sangat cermat oleh Tuhan. Namun, Boston sudah berkembang, mulai sekular dan tak lagi tertarik pada gagasan semacam itu. Akhirnya, dia pun terpaksa masuk ke hutan lagi untuk menjadi misionaris di kalangan orang Indian.
Selanjutnya muncul tokoh lain bernama ... eng ing eng... Benjamin Franklin. Pemikir muda yang penuh gairah dan semangat ini berbanding 180 derajat dengan Edwards. Van Doren memberikan list sebutan untuk Franklin: printer, publisher, journalist, compiler of almanacs, maker of proverbs, man of affairs, inventor, scientist, and philanthropist. Tak hanya jago di kandang, Franklin juga terbilang jago saat berdinas di London (yang mana waktu itu Jakarta-nya Franklin
, kan Franklin anak daerah, anak provinsi). Banyak sekali pepatah-pepatah karyanya yang masih bertahan sampai saat ini. Diantara karya-karya tulisnya, Autobiography-nya masih banyak dibaca orang hingga hari ini.
Yah...sementara begitu dulu deh. Selanjutnya kita ngomong soal kaitan literatur dengan revolusi Amerika.
No feedback yet
Leave a comment
| « Apa Hubungannya Literatur Amerika dengan Revolusi dsb? | On Borgesian Writing » |
