Estetika yang Simalakamais
By wawan on Aug 8, 2009 | In Sastra | Send feedback »
Yang dibahas: The Ideology of the Aesthetic, Terry Eagleton
Petualangan yang bikin gregetan. Kayaknya frase ini cukup menarik untuk mengawali resensi ini. The Ideology of Aesthetic, terbit tahun 1991, bagi saya merupakan bacaan porsi besar dengan kandungan gizi extra besar juga. Dan, yang tak boleh dilupakan, buku ini sangat kental, pekat. Dalam resensi yang seuprit ini saya akan mencoba menyarikan apa-apa yang telah saya sarikan dari buku ini—nah, lho, ini adalah sari dari sari. Baiklah, let's get it on:
Dalam The Ideology ini, Eagleton mengeksplor teori-teori tentang 'yang estetik' dari para pemikir dunia barat mulai dari Baumgarten sampai Habermas. Kenapa dimulai dari Baumgarten? Pemikiran Eropa kan sejarahnya sudah mulai beberapa milenium yang lalu, bisa saja kan dimulai dari Xenophanes atau taruhlah Plato. Eagleton memilih Baumgarten karena si bapak inilah yang mengawali pembahasan mengenai 'estetika' berdasarkan pengertian dari akar kata Yunani-nya 'aisthesis' yang berarti 'keseluruhan wilayah persepsi dan sensasi'. Jadi, estetika bukan lagi dipahami sebagai 'seni', yang biasanya dilawankatakan dengan 'dunia'), tapi lebih sebagai 'wilayah material' (yang seringkali dioposisikan dengan 'non material'), atau 'benda' (dalam oposisinya dengan 'pikiran'), atau 'sensasi' (yang dioposisikan dengan 'gagasan'). Nah, kira-kira pemahaman akan estetika yang semacam itulah yang menjadi penunjuk penelusuran estetika Eagleton dalam buku ini. (Btw, ini saya parafrase dari halaman pertama bab pertamanya The Ideology lho, hehehehe...)
Demikianlah, penelusuran dimulai mulai dari Baumgarten, yang mulai mengangkat arti penting segala penginderaan, setelah lama dianaktirikan dalam ranah pemikiran. Sebelumnya, pikiran selalu diadiluhungkan dan tubuh dianggap, well, kurang seksi secara pemikiran
. Baumgarten mulai menelusuri hasil kognisi inderawi manusia ini dan sampai pada argumen bahwa berbagai hasil sensasi ini memang penting, tapi tidak semuanya menyenangkan, dan demi menjadikannya menyenangkan kita harus menggunakan akal sehat untuk menjadikannya berterima. Atau, dalam bahasanya Eagleton yang aysik, agar menjadi berharga, hasil penginderaan ini harus dinaikkan derajatnya ke tingkatan ilmu pengetahuan. Okelah, di sinilah, meskipun masih harus dijembatani akal sehat, hasil kognisi badani ini mulai mendapat perhatian.
Selewat Baumgarten, gagasan terkait 'yang estetis' ini melewati persimpangan dan belokan, tanjakan dan turunan. Oleh para pemikir Inggris yang empirisis, 'yang estetik' masuk satu belokan: Shaftesbury seolah meleburkan batas antara 'yang estetis' dengan 'yang etis'. Nah, hal-hal yang indah itu sangat dekat dengan sifat asali manusia. Kalau Hegel bilang menuruti kata hati itu bisa menjermuskan kita ke egoisme, maka Shaftesbury bilang kalau egoisme itu tidak indah, padahal manusia punya kecondongan kepada yang indah-indah, jadi kalau benar-benar mengikuti kata hati, kita nggak akan terjerumus ke egoisme. Oleh Kant, 'yang estetis' ini muncul dalam kajian mengenai pemahaman: pemahaman manusia berasal dari hasil penginderaan yang sampai ke akal sehat dengan bantuan imajinasi, karena tanpa imajinasi manusia nggak bisa memahami apa itu benda-benda yang dia sentuh, raba, lihat, hidu, jilat. Begini kira-kira prosesnya, manusia mengindera sesuatu dan, untuk tahu apa sesuatu itu, maka dia sudah harus punya database di imajinasinya untuk mendapatkan padanan apa kira-kira sesuatu itu, dan kalau sudah ketemu, maka terjadilah pemahaman—seringkali imajinasi ini disebut sebagai 'pengetahuan a priori'. Nah, kalau saat mengindera sesuatu imajinasi kita nggak punya padanan di databasenya maka sesuatu itu disebut sebagai sesuatu 'yang estetis'. Dan jangan lupa, ada pembahasan wajib tentang 'cantik' dan 'sublim' lho. Demikianlah seterus dengan Hegel, Schoepenhauer, Schiller, dan Kierkegaard. Tikungan dan tanjakan tak ada hentinya. Eagleton melihat di sini bagaimana estetika dan etika itu cenderung mengajak manusia kepada keselarasan hidup, yang mana sangat menguntungkan borjuiasi yang duduk enak-enak sambil menjalankan bisnisnya di kantornya yang cool itu.
Seperti biasa, Eagleton menghabiskan banyak waktu menelusuri bossnya, Karl Marx
—ingat, kan, bagiamana di Theory of Literature Eagleton suka mengkorek-korek aliran-aliran teori sastra dari kacamata seorang Marxist sehingga kelihatan semua celah-lobang-cacat aliran-aliran itu, dan nggak salah kalau Marxist yang lain, M. Keith Booker, bilang kalau Theory of Literature itu adalah pembahasan atas teori-teori yang nggak disukai Eagleton
. Di bagian yang membahas Marx, Eagleton membahas ulang hal-hal yang menurutnya adalah pandangan Karl Marx tentang estetika. Dan di sini, pembahasan akan arti penting 'tubuh' mulai mendalam. Oh ya, 'tubuh' kan sarat utama penginderaan, karena, you know, kita kan mengindera dengan organ-organ tubuh. Di sini, Eagleton menerapkan gaya lain, yaitu memandang sisi-sisi estetis dalam pemikiran Marx, seperti misalnya pembahasan Eagleton bahwa tujuan besar Marxisme adalah mengembalikan lagi esensi penggunaan tubuh secara maksimal (misalnya, kalau dalam kapitalisme fungsi tubuh direduksi oleh uang, yang seringkali menjadi kekuatan tak tampak yang bisa membuat orang melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak memiliki kekuatan fisik yang memadai, misalnya 'membeli' tenaga orang lain dan memperbudaknya untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang super berat, yang nggak bisa dikerjakan tubuhnya sendiri, yang mana menurut Marx kurang asyik, kurang fair). Setelah Marx, pembahasan masuk ke Nietzsche yang terkenal sekali sebagai pembebas tubuh: Nietzsche mengajak orang mempertanyakan kembali esensi hukum moral, yang dulunya seringkali dipakai untuk 'memoles kekuatan-kekuatan manusia' hingga ekstrimnya menjadi 'pengebirian' kekuatan manusia. Di sini, Eagleton membahas Nietzsche dengan lebih indah: kalau biasanya orang cenderung menganggap Nietzsche itu suka membebaskan manusia dari moral, hingga yang salah tafsir bisa-bisa menganggap Nietzsche mengajak manusia menentang moral dalam artian negatif, Eagleton membahasnya secara etis: (waduh, sudah dua kali titik duanya, heheheh) Nietzsche mengajak manusia melepaskan diri dari hukum moral TAPI setelah menggunakannya (istilahnya, bagi Nietzsche hukum moral itu hanya dijadikan tangga, yang akan kita tendang setelah kita sampai di atas akan kita tendang), dan selanjutnya kita timbang-timbang baik buruknya prilaku etis itu dan kalau memang bagus kita jadikan dia kebiasaan kita sehingga kita bisa menjalankannya secara otomatis. Kira-kira begitulah. Terus pembahasan menuju Freud: Eagleton melihat Freud sebagai orang yang sangat anti harmonisasi antara tubuh dan pikiran. Dia melihat elemen-elemen estetik dalam teori Freud mengenai 'sublimasi' dan 'penggantian' dalam terkait hubungan antara pengalaman sehari-hari manusia dengan representasinya di alam mimpi. Freud menganggap manusia dewasa sebagai hasil pemolesan dan penyunatan oleh norma dan adat atas hasrat dan gairah asali manusia yang menurut Freud sangat destruktif. Tapi, dilematisnya, norma dan adat itu dibuat juga oleh hasrat dan gairah manusia yang lain yang dibuat demi kepentingan status quo, atau borjuisme. Nah loe! Terus juga ada pembahasan tentang filsafat ruwet Heidegger tentang Dasein, Being, dan being itu: kayaknya sebelum buku Time and Being ini selesai saya nggak akan bahas dulu deh di sini, hehehehehehe... malu tahu! Demikianlah... Di sini, Eagleton secara umum menyampaikan bahwa ada sisi-sisi positif dari estetika, yang cenderung mengajak kita mempertanyakan hukum dan moral, atau bisa dibilang mengajak kita kabur dari penjara moral dan taklid buta.
Akhirnya, Eagleton sampai pada pembahasan estetika di kalangan para pemikir mutakhir mulai Benjamin, Adorno dan para pemikir post-strukturalis dan post-modernis. Dari Benjamin, Eagleton membahas bagaimana estetika diajak untuk memahami hubungan 'terbaru' antara hal-hal yang partikular dengan yang general. Wah, kok abstrak? Begini, dalam menilai hal-hal tertentu dalam hidup, kita cenderung mengumpulkan hal-hal yang khusus dan kemudian menarik kesimpulan umum dari situ. Nah, si Benjamin mengajak kita lebih memperhatikan hal-hal yang khusus atau yang partikular itu dan, well, menyisihkan sejenak kesimpulan umum; begitulah maksud umum dari teori 'constellatory'nya (sorry, saya masih belum nemu padanan yang enak untuk istilah ini, apa mungkin “perasian”? Hahahaha. Sudahlah, yang penting Njenengan sekalian kira-kira tahu maksud saya.). Adorno, yang sangat dekat kaitannya dengan Benjamin, juga memiliki pandangan yang kira-kira serupa itu, TAPI Adorno lebih memberikan tekanan pada tubuh dan selalu menghubung-hubungkan semua kajian filsafatnya dengan Auschwitz dan pemusnahan masal warga Yahudi di Eropa secara umum selama masa pemerintahan rezim Nazi dan para pemimpin fasis lain di kawasan Eropa—bahkan, ada satu deklarasi uniknya yang bilang bahwa, dalam parafrase liar saya, 'kalau sampai ada pemikiran filsafat membahas tubuh sampai tidak menyertakan pemusnahan masal ini dalam pembuatan segala kesimpulan dalam perenungannya, maka yang seperti itu naif namanya'. Selanjutnya pembahasan mengarah ke (nir)pemberontakan para seniman avant garde. Menurut panjenenganipun bapak Eagleton ini, dengan tidak menyentuh politik sama sekali dalam karya-karyanya, para seniman avant garde ini bisa dibilang melayangkan protes yang sangat kuat kepada opresi politik; soalnya, menurut beliau di jaman ini, karena saking canggihnya politik dan kapitalisme, protes bisa menjadi sarana memberi kredit pada penguasa—gampangannya begini: kalau ada protes dan pemerintah memberi ijin untuk menjalankan protes itu maka orang akan melihat bahwa pemerintahan tersebut adalah pemerintahan yang terbuka terhadap kritik, yang mana artinya itu memberi kredit kan?—dan bahkan menyenggol tentang pemerintahan saja bisa-bisa menguntungkan bagi penguasa. Jadi, 'diamnya' para seniman avant garde itu bisa jadi protes yang canggih. Padahal, kalau jaman sekarang, bersikap netral di hadapan penindasan itu kan artinya mendukung penindas? (Btw, ini bukan bahasa asli dari Eagleton, tapi dari sebuah kutipan Desmond Tutu di kaos seorang kawan.) Dan lagi, kata Eagleton, kalau memaksa karya seni kita agak benar-benar tidak menyentuh politik, berarti kita merepresi potensi-potensi menyentuh politik yang semestinya bisa muncul? Nah, masak kita memprotes penindas dengan membuat sesuatu yang mencerminkan penindasan? Begitulah Eagleton memandang kegagalan gerakan avant garde. Jadi, bagaimana lagi?
Begitulah, buntutnya, Eagleton menyatakan bahwa estetika itu sebenarnya pedang bermata dua (ciyyeee... gak mungkinlah Eagelton secengeng ini,
): di satu sisi dia membebaskan manusia dari penindasan pemikiran, sementara di sisi lain estetika punya elemen-elemen yang menghambat realisasi tujuan pembebasan itu. Kalau Eagleton itu orang dari Sidoarjo, pasti dia akan bilang, “nasiiiib, nasib estetika, ketiwasan”, atau kalau dia orang Melayu pasti akan bilang, “estetika bagai buah simalakama”. Nah, terus gimana solusinya. Eng ing eng... sebagai seorang Marxist dia bilang: dialektika dong!!! Kita harus mengembalikan tradisi dialektika ke ranah estetika dan pemikiran pada umumnya. Dan tahu nggak, Eagleton menganggap pemikiran-pemikiran mutakhir saat ini cenderung bersikap ekstrim dan agak menjauhi, bahkan menolak, dialektika. Demikianlah. Wassalam. Semoga menghibur.
P.S. Btw, kalau sempat ingin baca rangkuman agak lengkap bab per bab atas buku The Ideology of Aesthetic ini, silakan klik di sini
No feedback yet
Leave a comment
| « Kawin Silang Media di Negeri Aa' Sam | Ngajak Radikal » |

