Joyce in Comics
By wawan on Aug 17, 2008 | In Sastra | Send feedback »
Ketemu juga akhirnya: buku pengantar James Joyce yang berbentuk komik. Dulu, yang pernah saya lihat adalah buku-buku pengantar (berbentuk komik) untuk Nietzsche, Sausure, Sartre, dll. yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Dan sekarang, ternyata ada juga pengantar untuk Joyce (yang, mungkin sebabnya bisa ditebak, tidak diterjemahkan ke bahasa Indonesia, hehehe... lha wong beberapa halaman bagian akhirnya banyak membahas Finnegans Wake, yang mana rather mustahil diterjemahkan ke bahasa lain).
Yah, buku ini, seperti seri-seri komik pengantar lainnya, menggambarkan 1) biografi singkat, 2) pemikiran, 3) komentar-komentar kritis dalam bentuk komik di mana, yang tak kalah lucunya, wajah si tokoh yang dibahas adalah wajah si tokoh dalam posenya yang paling terkenal di masa tua (jadi ya... meskipun menceritakan tentang Joyce kecil, wajahnya tetap Joyce yang sudah keriput berkacamata bermuka tirus berhidung lancip, padahal masih pake popok, hehehe).
Di sini, terasa sekali betapa David Norris dan Carl Flint, si penulis dan penggambarnya, mengaiteratkan antara biografi Joyce dan karya-karya Joyce. Kali ini sangat tepat. Menurut saya sangat tepat!!! Yah, sebagaimana telah kita tahu, salah satu obsesi Joyce adalah meleburkan antara fakta dan fiksi. Dan dia mengeksploitasi biografi dan pengalamannya untuk membuat karya-karya semacam itu. Jadi ya tepat sekali jika kita tak lupa membahas biografi Joyce pada saat kita juga ingin mempelajari panjenenganipun itu.
Dalam Introducing Joyce, bagian-bagian awal membahas hal-hal mendasar yang perlu kita ketahui tentang Joyce, yakni didikan Katolik yang mengakar sejak kecil, keadaan perekonomian keluarga yang payah karena prilaku sang bapak, dan banyaknya saudara dalam keluarga Joyce.
Agak ke dalam, kita akan diajak memahami karya Joyce satu per satu (sebenarnya bukan satu per satu sih... soalnya Dubliners tidak dibahas secara khusus, hanya disinggung-singgung sedikit, sejauh berhubungan dengan hal-hal dalam hidup Joyce yang melatari lahirnya cerpen-cerpen tertentu). Kita akan diajak menyusuri A Portrait of the Artist dengan gambar-gambar lucu nan merangsang imajinasi. Dan tak lupa, David Norris yang di sini lebih bersikap interpretatif (mungkin berdasarkan interpretasi yang dia baca dari sana-sini) mencoba menunjukkan kejadian-kejadian apa dalam hidup Joyce yang melatari episode-episode tertentu.
Selanjutnya, kita juga diajak memahami Ulysses, dan saya secara pribadi mendapat cukup banyak pengetahuan tambahan. Yah, bagi saya yang lahir dari budaya nonton kartun, saya jadi lebih bisa memahami episode-episode Ulysses (misalnya ketika Leopold Bloom menahan kentut saat ada seorang wanita lewat, dan baru melepaskan kentutnya dengan bebas pada saat ada trem lewat) kalo ada gambarnya. Dan saya yakin, ini akan mengajarkan kepada saya untuk MENCOBA MEMVISUALISASIKAN KEJADIAN jika agak kesulitan memahami kalimat-kalimat Joyce.
Nah, kalau soal Finnegans Wake, novel pamungkas sang Joyce, saya lagi-lagi nggak mau banyak komentar... Tapi yang jelas: ada satu pelajaran yang saya dapatkan dari buku ini, yaitu KALAU RAGU-RAGU (DALAM MEMAHAMI FINNEGANS WAKE) BACALAH KERAS-KERAS DENGAN AKSEN IRLANDIA!!!!.
Well, meskipun masih agak tak terjangkau bagi saya, saya ingin mencoba sesekali 1) mempelajari logat Irlandia dulu, baru kemudian 2) membaca Finnegans wake, hehehe...
No feedback yet
Leave a comment
| « On Borgesian Writing | Memahami Dominasi Sastra » |
