Keabadian Manusia
By wawan on Jul 26, 2008 | In Sastra | Send feedback »
Dulu, waktu baca Arvan Pradiansyah, yang mengajak kita untuk Cherish Every Moment, yang mana membuat kita lebih menghargai setiap momen hidup kita, membuatnya lebih berarti, saya menghubungkannya dengan batasan waktu dunia, yakni kiamat. Saya menganggap waktu dunia akan menjadi "tidak berarti" (dalam artian baik) jika kita bisa menghargai setiap detiknya. Setiap detik yang berarti akan menjadi sangat berharga sampai-sampai tidak akan lagi menjadi masalah bagi kita kapan pun kiamat datang, karena kita sudah mendapatkan sesuatu yang sangat berharga dari setiap detiknya.
Saya pernah berpikir bahwa kalau ada satu-satunya hal yang tak bisa dibeli (bahkan oleh orang terkaya di dunia sekali pun) hal itu adalah waktu. Jadi, kita harus mempergunakannya semaksimal mungkin, jangan sekali-kali menyia-nyiakannya (blogging itu bukan menyian-nyiakan waktu lho ya, termasuk blogwalking
). Allah memperingatkan dalam surat al-Ashr, yang saya tafsirkan begini (ciyyeee... sok nafsir-nafsir Quran nih): kalo ngomong soal waktu, sesungguhnya manusia itu rugi, kecuali mereka yang beriman (dan berbuat kebaikan-kebaikan sendiri sejauh berhubungan dengan iman) dan saling mengajak orang lain berbuat baik. Nah, selain orang yang begitu, rugi. Bahkan, orang yang diam pun rugi. Apalagi orang yang tidak beriman dan saling mengajak ke kebaikan. Nah, di sinilah kita ketahui bahwa waktu itu tak terbeli. Waktu akan terus hilang. Seperti puisi di buku puisi cerpen pertama saya "tik datang untuk menghilang".
Nah, sekarang kita melompat ke hasil permenungan Muhammad Iqbal (sang filsuf Pakistan) untuk mengkritisi salah satu pemikiran terpenting Nietzsche yaitu kembalinya segala sesuatu. Menurut iqbal, kembalinya segala sesuatunya Nietzsche itu bisa ditafsirkan sebagai keabadian. Dan keabadian, bagi konteks manusia, adalah dengan penikmatan sebuah pengalaman secara intens. Nah, bagi manusia (yang tugasnya memberikan nilai kepada hidup, setelah mendapatkan hidup dari Tuhan), sebaik-baiknya penikmatan sebuah pengalaman adalah melalui pemberian nilai yang sebaik-baiknya. Jadi, keabadian akan tercipta bagi seorang manusia ketika dia bisa memberikan nilai yang sebesar-besarnya dalam momen hidupnya.
Nah, sekarang, balik menjejak tanah lagi, bagi seorang novelis top cum si pemimpi, keabadian akan tercipta jika dia bisa memberikan nilai sebesar-besarnya kepada karyanya, agar orang yang membaca novel karyanya juga menikmati momen yang sepenting-pentingnya alam hidup. Semoga tercipta yang seperti itu ![]()
No feedback yet
Leave a comment
| « Memahami Dominasi Sastra | Pembunuhan "Tuhan" » |
