Comment from: Pengulas Sastra yang Jelatawan dan Jelalatan [Visitor] · http://ulasansastra.blogspot.com
Aku teringat pada Toni Morrison, kalau tidak salah dalam buku Pidato Para Pemenang Nobel Sastra (terbitan Pinus), yang pernah menyatakan bahwa sastra imajinatif yang ia tulis bagi sebagian orang mungkin terkesan sebagai suatu perayaan yang berlebihan.

Tapi ia menyatakan bahwa segala yang imajinitaif itu memuat sesuatu yang bermakna. Dan makna yang terkandung di dalamnya adalah campur-baur realitas dan gejolak sosial yang sedang ia amati di sekitarnya, di kehidupannya, di bangsanya...

Di tetangganya...

Dengan berbagai gejalanya...

Lanjutkan!
24/02/10 @ 23:28

Leave a comment


Your email address will not be revealed on this site.

Your URL will be displayed.
(Line breaks become <br />)
(Name, email & website)
(Allow users to contact you through a message form (your email will not be revealed.)
« The Trouble with Islam: Pertanyaannya Dihargai, Jawabannya DicurigaiModus Operandi Novel Portnoy's Complaint »