Kembali ke Khittah 2007
By wawan on Feb 16, 2010 | In Sastra | 1 feedback »
Baiklah, kali ini kita kembalikan lagi Berbagi Mimpi pada khittahnya, yakni mengeksplorasi mimpi-mimpi seorang calon novelis. Kita mulukkan lagi mimpi-mimpi seperti tahun 2007 dulu. Baiklah, inilah: kembali ke Khittah 2007!
Seperti saya sendiri ketahui, akhirnya cukup sudah bermain-main dengan gaya narasi, plot, tema, dst. Cukup sudah menulis cerpen kurang gizi. Cukup sudah terlena dengan main-main logika. Cukup sudah dengan keisengan intensif. Akhirnya diputuskanlah: membuka mata, melihat tetangga, membaca gejala.
Karena para penulis yang kita hormati adalah mereka yang menulis bukan HANYA karena ini, tapi ada dorongan keharusan. Kenapa harus? Karena ada sesuatu yang dia percayai tapi belum dia temui. Pak Pram percaya dengan kebangkitan nasional, dirisetnya proses kehamilan dan persalinan kebangkitan nasional. Kliping pun didapatkan mulai tahun 1979, waktu usia kehamilan kebangkitan nasional masih beberapa minggu hingga hari-hari ketika bangsa Indonesia sudah bukaan 8 dalam proses persalinan kebangkitan nasional. Dan itu dituliskannya. Pak Seno percaya ada yang tidak benar dengan tragedi Dili '92, ada yang membikinnya geram, ada orang-orang yang hilang dari keluarganya, ada kuping yang diputus, ada kepala yang ditancap ke tombak. Dan dia pun jadi hamil dengan protes dan melahirkan Saksi Mata, sebuah proses kehamilan yang berat, diwarnai pemecatan dan interogasi koramil, dan untung tidak sampai terjadi aborsi.
Melihat ke negara di belakang rumah kita, negara Aa' Sam, kita temui Richard Wright, yang pada tahun 1940 melihat bagaimana orang-orang kulit hitam di Selatan Amerika menghadapi segregasi dan saat pindah ke Utara pun ternyata juga dipojokkan di ghetto kota Metropolitan. Maka lahirlah Native Son yang mengisahkan bagaimana kriminalitas Afro-Amerika merupakan konsekuensi logis dari sebuah keadaan. Hal serupa terjadi pada Ralph Ellison dan James Baldwin, meskipun motif masing-masing sangat berbeda...
Dan bagaimana dengan calon novelis kita? Dia sudah melepaskan mainan-mainan sastranya. Robot-robotan gaya narasi sudah tidak pantas lagi dia tenteng kemana-mana. Sudah tak wajar lagi kalau dia tetap menyedot Dot Plot. Topi bahasa sudah tidak cukup lagi dia kenakan di kepalanya yang semakin besar.
Maka, di sebuah lemari kaca yang baru dibelinya dia simpan barang-barang itu. Tapi tidak dikuncinya lemari itu. Sesekali nanti mungkin dia akan kembali ke sana, menimang-nimang robot gaya narasi, meneropong matahari yang sinarnya membias di dot plot, atau memakai topi bahasa untuk sekedar berpoto-poto.
Sehari-hari, dia akan berjalan keliling waktu seiring berjalannya ruang, sambil mendiktekan novelnya kepada udara yang merekam. Si calon novelis yang kelak akan hamil itu kelak juga tahu ada kalsium yang dia butuhkan untuk menguatkan tulang, ada olahraga ringan yang dia butuhkan untuk kebugaran, sementara di rahimnya yang laki-laki itu bayi novel terus berfermentasi, hingga genap saatnya nanti...
...
...
1 comment
Tapi ia menyatakan bahwa segala yang imajinitaif itu memuat sesuatu yang bermakna. Dan makna yang terkandung di dalamnya adalah campur-baur realitas dan gejolak sosial yang sedang ia amati di sekitarnya, di kehidupannya, di bangsanya...
Di tetangganya...
Dengan berbagai gejalanya...
Lanjutkan!
Leave a comment
| « The Trouble with Islam: Pertanyaannya Dihargai, Jawabannya Dicurigai | Modus Operandi Novel Portnoy's Complaint » |

