Comment from: renz [Visitor] · http://nurenziarema.blogspot.com
Hum menarik sekali ya? lalu..kira-kira jika sang pembaca itu buta akan latar belakang penulis dan sekiranya juga buta terhadap latar belakang sejarah yang menjadi konflik dalam novel ini, apakah ia mungkin akan bisa memahami maksud sag penulis? (saya mengkhawatirkan diri saya bung wawan :) )
10/02/10 @ 09:16
Comment from: wawan [Member] Email
tak perlu kuatir, sodara, asalkan segala informasi yg dibutuhkan ada di dalamnya, insya allah pembaca akan bisa menikmati dan memahami novel yang bersangkutan. pada dasarnya, kalau novelnya baik, dia adalah sebuah dunia tersendiri yang lengkap dengan isinya... kira-kira demikian... dan invisible man ini memang novel yang punya semua infrastruktur untuk disebut dunia tersendiri... bahkan, banyak orang menganggapnya terlalu banyak isi. dan kebetulan saja saya hubung2kan dia dengan sejarah aktivisme afro-amerika

halah... kok serius? hehehe
11/02/10 @ 00:26
Comment from: renzy [Visitor] · http://nurenziarema.blogspot.com
That's an interesting point of view! I like the way u put it, bung!"pada dasarnya, kalau novelnya baik, dia adalah sebuah dunia tersendiri yang lengkap dengan isinya..."
maybe that is why it's never easy to produce a masterpiece. menulis memang tak semudah yang dibayangkan.

oh ya..saya iseng2 sedang mengambil kelas Southeast Asian Lit, ditengah kegentingan thesis malah coba-coba sedikit melenceng dari fokus kuliah, haha. Lumayan menarik lho bung, membaca beberapa karya penulis Filipina seperti Jose Rizal atau Nick Joaquin, ada banyak kemiripan dengan karya Pramoedya.
11/02/10 @ 17:47
Comment from: wawan [Member] Email
ya, ya... it's never easy to produce a masterpiece, kalau nggak proses nulisnya yang lama (kayak james joyce yang butuh 8 tahun buat ngrampungkan "ulysses"), ya proses penghayatan temanya yang lama (kayak jack kerouac yang berkelana/hidup di jalan sekitar 8 tahun dan menulis novel "on the road" berdasarkan kisahnya cuman dalam waktu 3 minggu). either way, sama-sama lama :D.

wah, hebat sampean sodara bisa ambil kelas southeast asian lit. aku sendiri gak banyak baca sastra asteng, selain jose rizal pernah baca terjemahannya kalau nggak salah, yang aku suka penulis thailand chart korbjitti dengan novel "time" (wapik tenan gaya naratife masiyo temane lumayan sederhana, harusnya sih di bahas di kelas sastra asteng), huong tu duong dari vietnam (novelnya ada yg diterjemahkan sapardi "the novel without a name", aku moco terjemahane :D), dan sekali lagi dari thailand pira sudham (lagi-lagi aku moco terjemahane berjudul "negeri hujan", asline "monsoon country")... selain iku, kayaknya nol.

tulislah, zus (hehehe... koyok GMNI, renz, sebutane Bung dan Zus) di blogmu hasil kuliahnya... meskipun dengan bahasa mabuk ala ... ehem-ehem ... berbagi mimpi :D
11/02/10 @ 18:21

Leave a comment


Your email address will not be revealed on this site.

Your URL will be displayed.
(Line breaks become <br />)
(Name, email & website)
(Allow users to contact you through a message form (your email will not be revealed.)
« Modus Operandi Novel Portnoy's ComplaintKenapa Harus Muslim yang Punk atau Punk yang Muslim? »