Kitab The Punk by Syekh Gideon Sams
By wawan on Feb 1, 2010 | In Sastra, Serbasuka, Fenomena | Send feedback »
Buat cak Jon, Mas Alo, Mas Isa dan Babal.
Saya pingin baca The Punk by Gideon Sams setelah baca The Taqwacores di mana dikisahkan Jehangir, waktu lagi i'tikaf di masjid Rochester, menyelipkan novel The Punk di sela-sela kitab di perpustakaan masjid itu dengan harapan agar dibaca muslim yang kebetulan cari-cari buku. ![]()
Setelah nunggu sekitar seminggu lebih, akhirnya datang juga novel pinjaman yang judulnya The Punk. Saya sendiri heran kenapa sampai lama buku ini baru sampai. Menurut pengalaman sih, biasanya 3 atau 4 hari setelah mengajukan permohonan pinjam saya akan dapat bukunya. Kalau pun sampai agak lama, seperti waktu pinjam bukunya J.E. Tatengkeng Rindu Dendam dulu, biasanya saya malah dapat versi .pdf-nya. Dan sebenarnya, saya agak berharap-harap cemas dapat versi .pdf-nya kitab The Punk ini. Ternyata eh ternyata, dapatnya buku standar. Ternyata tipis lagi. Ternyata... buku itu dipinjamkan dari Inggris booooo'. Inggris, negaranya Ratu Elizabeth yang "dilecehkan" oleh The Sex Pistols dalam lagunya itu. Well, rasanya kayak dapat pinjaman kitab kumpulan hadits rawian Bukhari dari sebuah perpustakaan di Uzbekistan. Hehehe...
Okelah, kita lanjutkan ke inti postingan. The Punk ini menurut covernya adalah "The First Punk Novel" dan "Romeo and Juliet with Safety Pins". Hehehe... Kovernya bergambar seorang anak punk dengan peniti di hidungnya yang disambung dengan rantai sampai ke kuping. Di lehernya juga ada kalung rantai dengan bandul gembok. Hehehe... Punk abis lah. Fisik bukunya juga tak kalah punk. Covernya hanya monokrom, kurning dan hitam. Fontnya juga font mesin ketik dengan tulisan subjudul (yang saya kutipkan di atas itu) ditulis tangan. Pendeknya benar-benar mengingatkan zine-zine punk yang dibikin sendiri oleh anak-anak punk Inggris tahun 76-an ketika mereka mulai pingin hiburan dengan membikin "majalah-majalahan" yang dibikin dengan tulis tangan dan dikasih-kasihkan teman. Isinya biasanya tentang band-band punk yang mereka sukai atau berita tentang anak-anak punk lain. Nah, kalau bagian dalam kitab The Punk ini, lagi-lagi sangat punk. Sangat nggak nggenah. Atau, kalau pingin pakai jargonnya anak-anak punk, sangat DIY (Do It Yourself wal-garapan dewe). Ternyata teks isinya dibuat dengan mesin ketik biasa. Jadi ya, kayak baca diktat bikinan guru Pendidikan Jasmani Kesehatan SMP saya dulu (yang isinya tentang peraturan bola tangan dan cara melakukan Lompat Jangkit). Hehehe... Oh ya, isi novel ini 60 halaman dan bab 1 mulai di halaman 7.
Oke, masuk ke cerita.
Adolph Sphitz adalah seorang anak yang ruwet. Dia sudah gak punya lagi penghormatan ke orang tuanya dan pingin hidup bebas. Penampilannya digambarkan seperti anak-anak punk yang serba anti aturan itu. Jaket pink. Celana boiler (mungkin semacam katelpak). Peniti di sana sini (hidung, kuping, mulut). Satu anting swastika di kuping kiri (menurut Dick Hebdige, anak-anak punk Inggris pada masa itu pakai swastika hanya untuk bikin orang sebab karena masa itu trennya adalah anti Nazi--dan ingat, anak-anak Taqwacore memakai Bintang Daud sebagai cara membikin sebal muslim standar
). Pada awalnya si Adolph (yang nama aslinya David tapi kemudian diganti, seperti layaknya anak-anak punk
) pernah sekali mencoba kabur dari rumah, tapi ternyata ibunya malah sakit, jadi dia harus kembali lagi. Adolph sendiri sudah tidak punya rasa hormat sedikit pun kepada orang tuanya. Menurut Dick Hebdige dalam buku Subculture: The Meaning of Style, ketidakhormatan kepada orang tua memang lazim di kalangan anak-anak punk. Tidak ada lagi nilai yang baku buat mereka. Dan segala tindak laku mereka juga cenderung hanya untuk membuat orang sebal. Ternyata, tidak hanya kepada ortunya sendiri saja si Adolph ini tidak hormat. Kepada orang tua pacarnya pun dia tidak hormat. Masak waktu dibukakan pintu oleh bapak pacarnya dia malah "haeeeeek juh" di depan pintu. Begitulah secara personal...
Selanjutnya, pasti Suadara pembaca sekalian agak bertanya-tanya kenapa novel ini disebut "Romeo and Juliet with Safety Pins?"
Begini ceritanya. Pertama-tama sekali lagi perlu saya ingatkan bahwa "Safety Pin" yang bahasa latinnya adalah "peniti" itu merupakan salah satu "rukun" punk Inggris. Peniti dipakai di sekujur tubuh anak-anak punk buat menyambung segala yang lepas-lepas. Kadang-kadang emblem-emblem nama band atau apa ditempelkan di baju atau topi pakai peniti. Baju yang sobek disambung pakai peniti. Bahkan seringkali, menurut film dokumenter Punk: Attitude, baju-baju yang wajar mereka sobek lebar-lebar hanya agar mereka bisa pasang peniti berbari panjang di situ. Baiklah, kita lanjutkan. Yang kedua adalah kenapa "Romeo and Juliet"? Nah, si Adolph adalah anak punk. Dan cewek yang dia taksir adalah awalnya adalah pacar seorang "Ted" atau "Teddy Boys/Girls", salah satu subkultur yang menjamur di Inggris pada pertengahan dekade 70-an, yang berasal dari tingkat menengah ke atas. Oh ya, lagi-lagi harus mengutip Dick Hebdige. Pada masa itu, terutama sekitar kerusuhan massa di London pada musim panas 76, yang ditandai dengan kekeringan itu, ada tiga jenis subkultur yang marak di London, yakni "punks", "teds" dan "reggae" (yang reggae ini umumnya di kalangan para imigran dari West Indies dan kelanjutan dari Rude Boys atau anak-anak ska dari beberapa tahun sebelumnya). Kembali ke Adolph dan Thelma tadi, ternyata akhirnya Thelma ikut punk, meninggalkan pacarnya yang Teddy Boy itu. Maka... dengan menggunakan logika Romeo and Juliet (seperti halnya pacarannya suporter the Jak dengan suporter Persib Bandung), mungkin Saudara-saudara bisa membayangkan seperti apa kisahnya...
Untuk lebih jelasnya, kayaknya buku ini sudah ada terjemahan Indonesianya deh...
Selain kisah asmaranya, The Punk juga memberikan gambaran yang lebih jelas, karena lewat cerita, tentang hubungan dan gaya bersikap anak-anak punk. Selain itu, juga ada bonus kisah konser ulang tahun The Sex Pistols di Roxy, sebuah tempat konser punk yang tersohor di Inggris. Di konser itu ada Mick Jagger yang hadir ... hanya untuk diolok-olok vokalisnya The Pistols.
Well, well, well...
No feedback yet
Leave a comment
| « Kenapa Harus Muslim yang Punk atau Punk yang Muslim? | Mulai Meluncurkan RETRObusy » |

