Mbaca The Tempest Shakespeare: Antara Struktur yang Multilapis dan Ideologi (yang juga Multilapis Tentunya)
By wawan on Feb 14, 2009 | In Sastra | 2 feedbacks »
Untuk keperluan "latihan", saya membuat sebuah esai kritis (ciyyeee... sungkan rek!) atas naskahnya William Shakespeare yang berjudul The Tempest.
Sekedar informasi awal, The Tempest ini termasuk karya Shakespeare yang paling banyak dibahas karena 1) berbagai ketidakwajarannya, dan 2) merupakan karya yang terakhir ditulis si William tanpa kolaborator dan disebut-sebut sebagai naskah perpisahan dari William Shakespeare. Oh ya, sekedar informasi yang melandasi lagi, penulis karya2 drama yang sekarang kita kenal dengan karya-karya Shakespeare ini sebenarnya masih jadi subyek perdebatan. Tapi, pendapat yang paling dominan saat ini adalah penulisnya itu adalah si "Will", yang berasal dari keluarga semacam orang agak kaya dan pernah hidup agak sengsara dan selanjutnya waktu agak gede kerja di kota nulis drama dalam sebuah kelompok drama bernama Lord Chamberlain's Men dan kemudian The King's Men.
Oke, sekarang masuk ke poin esai kritis itu:
Saya melihat, berdasarkan pembacaan atas kritik-kritik sebelumnya dan analisa sendiri tentunya
, bahwa struktur The Tempest yang seperti panggung di atas panggung itu berhasil menjadi tabir yang menutupi dan bahkan membalik pesan "berbahaya" yang terpancar dari karya itu.
Untuk tujuan itu, pertama-tama saya akan coba kasih Anda sekalian kesempatan mengintip karya itu:
Ceritanya adalah tentang Prospero, mantan Duke of Milan, yang tinggal bersama putrinya, Miranda, di sebuah pulau kecil. Mereka berdua itu dikawani 2 abdi, yakni Caliban, makhluk yang tidak seperti manusia sempurna karena dilahirkan oleh seorang nenek sihir, Sycorax, dan abdi satunya lagi adalah Ariel, semacam peri/jin yang menjadi abdi Prospero sejak dia dibebaskan Prospero ketika Ariel sedang dalam penahanan dan penyiksaan oleh Sycorax--jadi, sebelum mati Sycorax menahan dan menyiksa Ariel dengan mantranya, dan waktu Sycorax mati, Ariel masih dalam keadaan belum terbebaskan. Suatu ketika kapal yang membawa 1) Antonio, Duke of Milan yang baru, yang sebenarnya mendapatkan kedudukannya itu karena merebut kekuasaan Prospero dan menyingkirkannya, 2) Alonso, Raja Naples, yang juga ikut membantu Antonio menyingkirkan Prospero, 3) Ferdinand, putra si Raja Naples, dan lain-lain, lewat di dekat pulau sepinya Prospero ini. Karena pingin memberi pelajaran, maka Prospero menyuruh Ariel membuat badai yang sedemikian rupa agar mereka semua ini terdampar di pulau mereka. Nah, beneran deh, mereka terdampar di pulau itu. Prospero, dengan ilmu sihirnya (ah, di sini disebutnya "seni"), mencoba mengatur taktik agar mereka semua mengarah kepadanya sehingga kedok mereka bisa tersingkap. Begitulah ceritanya, Prospero dan Ariel mencoba mengatur agar mereka sampai kepadanya, dan efek sampingnya masing-masing persona menunjukkan bahwa sebenarnya mereka sama-sama punya niat jahat dan punya pengalaman jahat, kecuali si putra raja, Ferdinand, yang sangat tulus, dan pada akhirnya berhasil mendapatkan ACC Prospero untuk menikahi putrinya. Ceritapun berakhir dengan khusnul qotimah atawa happy ending.
Nah, dari situlah saya kepikiran bahwa sebenarnya cerita ini adalah "panggung di atas panggung". Maksud saya, tingkah si Prospero ini seperti sutradara yang mengatur para aktornya untuk melakukan apa-apa yang dia inginkan. Ya, seperti mengatur jalannya sebuah panggung pertunjukan. Padahal sebenarnya dia dan tokoh-tokoh lain ini kan sebenarnya di atas panggung? Begitulah.
Selanjutnya, saya fokuskan perhatian pada bagian "kerja". Di The Tempest ini, ada tiga orang yang melakukan "kerja", yakni 1) Ariel, yang bekerja untuk Prospero, seperti misalnya bikin badai itadi, 2) Ferdinand, yang juga bekerja untuk Prospero setelah dia tertangkap dan Prospero ingin menguji apakah dia bener2 orang baik dan layak mendapatkan putrinya--dia tugasnya mencari kayu bakar--dan, 3) Caliban, yang bekerja untuk Prospero dalam mengatur kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Selama The Tempest, dia disuruh bekerja mencari kayu, persis seperti Ferdinand.
Dari ketiga jenis kerja ini, saya melihat:
1) untuk Ariel, dia bekerja dengan sukacita, sebagai wujud terima kasih atas pembebasannya oleh Prospero dari siksaan selama 12 tahun itu. Meskipun pernah agak protes, dia pada akhirnya tetep bekerja dengan manut dan rajin, karena Prospero menjanjikan kebebasan penuh setelah tugas terakhirnya ini--yakni tugas "memberi pelajaran" para aristokrat ini. Kalau soal "kerja", kayaknya cocok kalau kita lihat dari uraiannya Marx dan Engels dalam Economic and Philosopic Manuscripts. Dalam buku itu, Marx dan Engels menguraikan konsep alienasi--yang terkenal itu booo'. Menurut mereka, kan, setidaknya ada 2 tataran alienasi. Pada tataran pertama, seorang pekerja itu "terasingkan" dari produk kerjanya. Kenapa "terasingkan"? Karena, hasil kerja mereka jauh lebih besar nilainya daripada upah yang mereka terima, sehingga memberi keuntungan lebih besar kepada majikan mereka. Nah, di sini kelihatan sekali bahwa si Ariel ini bukanlah sosok pekerja yang teralienasi, karena upah yang dia terima, yaitu kebebasan mutlak, tidak kalah besar nilainya dibanding produk kerjanya--produk kerjanya adalah apa yang Prospero minta, memberi pelajaran pada para aristokrat itu. Di sini bisa dibilang Prospero memang baik, karena memberi upah yang seimbang atau lebih besar daripada pekerjaan yang dia minta lakukan.
2) untuk Ferdinand, dia disuruh bekerja berat mencari kayu dsb, tapi dia menikmati sekali pekerjaannya itu, karena dia menganggap melakukan pekerjaan itu demi Miranda, sehingga seberat apapun tugas itu tidak terasa berat baginya. Nah, kalau untuk menjelaskan kondisi dia ini, cocok kiranya kalau kita ambil konsep alienasi pada tataran ke-2, yaitu "keterasingan" seorang pekerja dari proses kerjanya. Di tataran ini, orang yang teralienasi adalah orang yang tidak menikmati pekerjaannya, merasa seolah pekerjaannya itu sebagai sebuah siksaan. Intinya si Ferdinand ini tidak teralienasi karena dia bersama dengan Miranda ketika bekerja. Tapi, tetap saja, di sini yang memiliki peran besar adalah Prospero. Kenapa? Karena Prospero membiarkan putrinya menemani si Ferdinand, dan bahkan membiarkan ketika putrinya menyuruh si Ferdinand berhenti dulu istirahat. Padahal, kalau memang ingin keras-kerasan, sebenarnya Prospero bisa saja menjauhkan putrinya dari dia sehingga Ferdinand benar-benar tersiksa oleh pekerjaannya.
3) untuk Caliban, dia ini adalah pekerja yang benar-benar tersiksa dalam bekerja dan yang menjadi pikirannya terus-terusan adalah bagaimana caranya merebut kembali pulaunya dari Prospero--oh ya, sebenarnya pulau ini dulunya milik si penyihir Sycorax, ibunya Caliban, dan ketika si penyihir mati, Prospero datang untuk menguasainya, dan Caliban tidak bisa merebut kembali karena Prospero punya "seni sihir" itu. Nah, sebenarnya Prospero dan Miranda sudah berusaha mendidik Caliban, mereka ajari si Caliban berbicara, beradab, dst, tapi tetap saja si Caliban menolak menjadi beradab, dan ingin hidup buas lagi. Padahal, kalau dipikir-pikir, dengan bekerja untuk Prospero, dia bisa mendapatkan upah yang bagus, yakni "keberadaban" itu. Tapi ya, begitulah, karena bebal, dia menjadi terpenjara sendiri dalam pekerjaannya.
Nah, begitulah, jadi yang bisa disarikan dari ketika hal ini adalah: 1) bahwa sebenarnya orang-orang ini bekerja dengan sukacita karena "boss" mereka memberikan gaji yang baik, dan 2) kalau ada pekerja yang tidak bekerja dengan sukacita, itu karena dia sendiri yang bebal, tidak menyadari betapa besar arti upah yang diberikan oleh tuannya itu.
Tapi, itu baru pada tataran pertama, pada tataran panggung yang di atas panggung. Kalau dilihat dari sudut pandang yang lebih jauh, kalau kita hubungkan dengan bentuk cerita yang bertumpuk-tumpuk itu, kita akan tiba pada sebuah kesimpulan bahwa karya Shakespeare ini menyampaikan pesan 1) bahwa rakyat harus patuh terhadap apa yang dititahkan oleh para pimpinan mereka, dan 2) kalau kita hubungkan ini dengan fakta bahwasanya ini adalah "karya perpisahan"-nya Shakespeare, bahwa Shakespeare ini agar para aktor mematuhi para sutradara mereka, karena para sutradara itu lebih tahu daripada mereka mana yang baik dan mana yang kurang baik.
Secara umum, bisa dibilang bahwa karya ini berpesan agar para bawahan patuh kepada para pimpinan karena pimpinan mereka lebih tahu dan punya wawasan lebih jauh. Atau, kasar-kasaran bisa dibilang bahwa karya ini memihak pada pimpinan, dan menyarankan taklid buta, sikap tidak memandang kritis kepada pimpinan. Ini sebuah sikap yang memandegkan bawahan dong.
Kalau sudah begitu, baiknya kita konsultasikan kepada Louis Althusser. Bagaimana menurut dia? Menurut dia, ada 2 perangkat yang dipakai sebuah negara untuk mengatur rakyatnya, untuk membuat para rakyatnya tetap patuh, tetap bisa bekerja sesuai dengan keinginannya, tetap mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya buat para pemilik modal, yakni: Repressive State Apparatuses (seperti misalnya polisi, militer, kejaksaan, dll) dan Ideological State Aparatuses (seperti misalnya sekolah, agama, keluarga, dan hal-hal lain yang membantu penanaman ideologi). Nah, bagaimana dengan karya sastra? Karya sastra, karena tabiatnya yang selain menghibur juga bisa menyampaikan ajaran itu, termasuk ke dalam Ideological State Apparatuses. Jadi, kekuatannya juga besar dalam menyampaikan ajaran-ajaran seperti itu. Apalagi karya sastra itu tidka terbatas pada ruang dan waktu saja, dia bisa mempengaruhi orang di manapun dia mau (asalkan ada material tertulisnya) dan kapan pun dia mau.
Nah, kalau dipandang dengan sedikit bantuan paragraf di atas barusan, akan ketahuan bahwa dia sebenarnya berpihak kepada pimpinan dan mengajari para bawahan untuk tetap anteng dalam bekerja dan mempercayai pimpinan kita jika kita inain menikmati kebahagiaan. Dan pesan itu bisa tersembunyikan dengan rapi berkat kecanggihan Shakespeare membuat struktur yang dahsyat semacam itu. Well, sedikit gossip dari luar teks sih, Shakespeare sendiri kan bikin dramanya juga sedikit banyak buat para aristokrat, selain memainkannya di The Globe dan sebuah gedung pertunjukan lain, dia kan sangat sering bermain di istana, jadi ya.... Anyway, balik ke teks, kita harus jeli dan berhati-hati melihat karya Shakespeare itu, karena seringkali saking hebat dan cantiknya karya itu, kita sendiri jadi tidak bisa mengendus bahaya dari pesan-pesan yang ingin disampaikannya.
Begitulah, untuk lebih lengkapnya tentang esai kritis ini, silakan ambil di sini, yang merupakan versi serius
yang saya serahkan ke bu guru saya.
2 comments
Ngelantur yooooooo.
Bravo, keep it on!!!!
Leave a comment
| « Mengapa Kita Filter Dunia saat Mendekati Sastra Kita? | Ayo Baca Lagi Formalisme Rusia dan Kritik Baru (nanti baca lainnya juga kok :D) » |

