Mengapa Kita Filter Dunia saat Mendekati Sastra Kita?
By wawan on Apr 19, 2009 | In Sastra, Bahasa | 2 feedbacks »
Saya melihat kita secara sadar menjaga sastra kita--terutama puisi--dari dunia, seolah-olah tidak mau mengotorinya dengan kata-kata yang sebenarnya telah mensupport hidup kita sehari-hari, dengan dalih--yang meskipun tak terucapkan secara lisan--"menjaga kemurnian puisi". Malah, ada oknum-oknum tertentu yang memasukkan kata-kata yang sebenarnya tak mereka hidupi sehari-harinya ke dalam puisi. Chairil Anwar, Putu Wijaya, Joni Ariadinata, dan Saut Situmorang mungkin bisa dibilang sebagai orang yang mencoba mengingatkan kita untuk selalu menyatukan hidup dengan susastra. Ya, tapi di setiap jaman harus ada yang bersukarela menjadi reminder, demi terhidupinya sastra, demi terus lahirnya sastra yang tak hanya lembar buku untuk ditransfer ke anak cucu.
Oh, ternyata gampang sekali nulis kredo. Huahahahahaha... Kena deh!... 
2 comments
Siapakah "oknum-oknum", Bung Pemimpi?
Jika jawabanmu membahayakan keselamatan jiwamu -- esok dan nanti,
Kau bisa memberitahuku via japri.
Hihihi...
heheheheh...
Leave a comment
| « clear your mind of questions!!! | Mbaca The Tempest Shakespeare: Antara Struktur yang Multilapis dan Ideologi (yang juga Multilapis Tentunya) » |

