| « Sejumlah Poin on Nabi Tanpa Wahyu | Dibuka, Berbagi Mimpi versi non blogspot » |
Menghudan Tanpa Wahyu
Sebenarnya sudah agak lama saya pingin menulis sebuah review yang utuh, seperti pada kehidupan-kehidupan saya sebelumnya (alah!). Tapi ya, kesibukan mengejar kekayaan duniawi telah mengalienasi saya (halah! lagi). Tapi... jangan kuatir, minggu-minggu terakhir ini, ketika dunia tak lagi mampu mengekang saya, ketika Tuhan benar-benar mewujudkan impian saya (aamiiin), saya mulai lagi deh bisa merencanakan sebuah review yang utuh.
Sebuah resensi yang utuh, bagi si Pemimpi yang blogger jelata yang memiliki benih-benih narsis varietas unggul ini, adalah sebuah resensi yang dilandasi oleh semangat belajar, benar-benar belajar, syukur-syukur tanpa ada penyusup yang namanya "ingindimuatdikompas". Ya, tanpa ada penyusup itu. Kalo Kompas mau memuat ya... itu kan efek sampingan saja.
Terus, review apa yang pingin saya tulis itu? Ya, pasti, review itu adalah review atas buku Nabi Tanpa Wahyu-nya Hudan Hidayat. Kenapa harus buku itu? Ya, karena, unpungkirily (ini bahasa inggris baru, artinya, "tak dapat dipungkiri"), perkenalan saya di milis apsas dengan dia dan berlanjut di multiply, benar-benar membuat saya ingin tahu bagaimana sesungguhnya Hudan yang Hidayat ini.
Setelah saya baca-baca lagi bukunya (yang sudah saya beli berbulan-bulan berselang dan bahkan sudah saya singgung di berbagi mimpi v.0.1), saya semakin menemukan sejumlah keunikan dan ... well ... kelayakkritikan Hudan Hidayat yang saya rasa akan sangat berharga untuk saya pelajari selaku seorang calon penulis novel top ini (wekekekek).
Ya, tunggu saja deh, saya akan bikin review yang sekomprehensif mungkin dalam beberapa hari ke depan, dan akan saya muatkan di media kebanggaan saya wawanekoyulianto.multiply.com. Dan kalau ada koran yang kepincut ya monggo saja (alah!!!).