Modus Operandi Novel Portnoy's Complaint
By wawan on Feb 11, 2010 | In Sastra | Send feedback »
Saya baca kembali Portnoy's Complaint, novelnya Philip Roth, dengan agenda pasti: mencari motif-motif terkait migrasi. Beberapa bulan yang lalu saya berencana membuat semacam perbandingan motif-motif seputar migrasi paksa di tiga novel dari tiga kelompok minoritas di Amerika: Katolik, Yahudi, dan Muslim. Waktu merencanakan studi itu, seingat saya ada motif "balik ke tanah leluhur" yang cukup kuat dalam Portnoy's Complaint. Akhirnya, sejak 2 hari yang lalu, waktu saya sudah mulai berniat ambil langkah tegap maju jalan memulai riset-risetan itu, saya pun baca kembali Portnoy's Complaint. Ya, seperti saya bilang, dengan agenda yang pasti, mencari motif-motif terkait migrasi, diaspora, dan kembali ke tanah leluhur.
Ternyata, saya agak tersentak waktu membaca, bikin catatan, dan menyelesaikan buku itu. Motif-motif yang saya harapkan akan saya temukan itu ternyata sangat minim dalam novel tersebut. Saya langsung sadar: wah, kalau begitu nggak sepantasnya saya neliti soal migrasi di novel ini. Lha wong yang saya pikir migrasi balik itu ternyata cuman semacam efek sampingan dari rentetan aksi si tokoh utama. Yang ada bukan kembali ke tanah leluhur karena satu tujuan, tapi kesan-kesan seorang yang kembali ke tanah leluhur dan mendapati bahwa dirinya sudah tidak cocok lagi dengan tanah akar leluhurnya. Hmmm... Ya, akan tidak sehat jadinya kalau saya ngotot membicarakan "motif kembali ke tanah leluhur dalam novel ini". Sudahlah, lebih baik kita lanjutkan sajalah postingan blog ini dengan catatan-catatan tentang Portnoy's Complaint, tanpa terkungkung pada tema kembali ke tanah leluhur.
Mari:
Portnoy's Complaint di awali dengan semacam entri kamus lengkap dengan definisi dan keterangan jenis kata (misal "kata benda"). Sekilas tampak betulan, padahal sebenarnya adalah akal-akalannya si novelis sendiri. Di situ dijelaskan bahwa "Portnoy's Complaint" adalah semacam gangguan mental yang berbentuk haus-seks dan segalanya, yang penyebabnya terkait, menurut Dr. O. Spielvogel, hubungan ibu-anak pada masa pertumbuhan si anak.
Isi novel ini sendiri adalah penuturan Alexander Portnoy kepada Dr. Spielvogel, semacam penuturan seorang pasien kepada psikoanalis di ruang prakteknya. Si Portnoy ngomong terus, dan Dr. Spielvogel cuman mendengar, dan baru pada baris terakhir novel si dokter ini angkat bicara--itu pun cuman satu kalimat plus pertanyaan "Yes?" (hehehe... siapa saja yang kebetulan pernah baca Ulysses pasti dengan gampangnya menghubungkan yes ini dengan "yes"nya Molly Bloom di akhir Ulysses--alah, saya kok sedikit-sedikit menghubungkan sama Ulysses sih, kayak Om Pandu Ganesa yang selalu bisa menghubungkan apa saja dengan Karl May, hehehe... Halo, Om Pandu, ini pujian kok
).
Portnoy adalah seorang anak dari pasangan Yahudi yang tinggal di Newark, New Jersey. Orang tuanya adalah keturunan imigran Yahudi Polandia. Ibunya adalah seorang wanita Yahudi yang terbilang taat dan kehidupan sehari-harinya harus dilakukan secara Yahudi dan superperhatian masalah kesehatan dan gizi (makanan harus sehat lengkap dengan sayuran dan lain-lain, dan daging harus kosher—atau halal, maaf buat yang sudah tahu, bukan bermaksud menggurui,
—dan aturan kosher berlaku, kalau makan daging, gak boleh makan produk mengandung susu). Pernah satu kali, waktu dia nggak mau makan sayur ibunya sampai mengancam dia pakai pisau, disuruh makan. Inilah kelak yang ikut jadi penyebab “gangguan” Portnoy saat dewasa. Ayahnya seorang tukang jual asuransi untuk kawasan pemukiman menengah ke bawah di Newark. Si ayah selalu sembelit.
Karena satu lain hal, Portnoy jadi anak ketagihan seks sejak kecil. Dan hal ini semakin parah saat dia beranjak dewasa. Kelakukan seks-nya waktu dewasa sangat parah, saking parahnya cerpen-cerpennya Djenar Maesa Ayu jadi kayak cerpen tentang anak SMP
. Kayaknya nggak perlu dibahas di sini lah bagaimana kelakukannya.
Juga mulai kecil, si Portnoy sudah mulai suka protes dengan aturan-aturan yang sifatnya keagamaan. Dia protes kenapa gak boleh makan lobster? Kenapa, kata ibunya, makan lobster bikin lumpuh jari? Kenapa gak boleh makan susu bareng makan salami? Dan seterusnya dan seterusnya. Ujungnya, proklamasi keateisannya muncul pada saat usianya 14 tahun, waktu ada peringatan hari keagamaan dan dia ngotot tetap pakai jins, bukan pakai baju resmi, karena tidak masuk akal baginya ganti baju hanya untuk urusan agama, yang ujung-ujungnya tentang Tuhan, yang menurut dia tidak ada! Maka, penuturan Portnoy kepada Dr. Spielvogel ini selanjutnya tentang konflik2nya terkait protesnya terhadap agama Yahudi. Dia tidak mau dengar kata orang tuanya, tak peduli meskipun agama Yahudi artinya agama yang dia peluk bersama-sama dengan orang-orang yang sudah jadi korban pengusiran dan penyiksaan sejak dua ribu tahun yang lalu, bersama-sama 6 juta orang Yahudi yang konon jadi korban Nazi di Jerman. Dia pun menjadi Yahudi secara ras, tapi ateis secara akidah.
Demikianlah, cerita pun selanjutnya bergulir tentang masa-masa kuliah dan dewasanya. Nah, karena ini adalah penuturan seorang pasien kepada psikoanalisnya, jadi ya bisa dibilang cerita tidak terstruktur dengan secara gambling. Ada kalanya si Alex menceritakan fakta tentang masa lalunya. Ada kalanya dia menceritakan drama-drama dalam pikirannya tentang sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Ada juga kalanya dia menceritakan sesuatu dari masa lalu tapi dia sendiri meragukan atau bahkan tidak ingat detilnya. Namun, di situ ada kisah-kisahnya dengan gadis-gadis yang pernah menjadi kekasihnya sejak masih kuliah. Seorang gadis Kristen baik-baik. Seorang model yang juga mantan istri pengusaha kaya yang punya kelainan seksual—yang sebenarnya gadis ini juga akhirnya “lain” tabiat seksualnya. Seorang mahasiswi cerdas calon intelektual temannya kuliah. Seorang letnan wanita di Israel. Dan seorang aktiviswati sosial di Israel juga.
Dalam hubungan dengan banyak gadis itu, Alex meleburkan berbagai isu: agama, ras, dan keluarga. Dalam hal agama, dia menyoroti kecenderungan pemeluk agama tertentu untuk bersikap membeda-bedakan antara “kita dan mereka”, seperti misalnya kalau orang Yahudi menyebut pemeluk agama lain “goy/goyim/goyische”, orang Kristen menyebut orang lain “gentile”, atau orang Islam menyebut orang lain “kafir”, dst. Si Alex juga mengakui bagaimana sebenarnya orang-orang yang disebut orang tuanya sebagai “goyim” itu sebenarnya menerapkan nilai moral atau kedisiplinan yang lebih baik dari orang-orang Yahudi di sekitarnya (ini motif yang bisa diteliti lebih lanjut, ehem-ehem, saya menyiapkan juga penelitian lain tentang modus operandi ini, Irshad Manji menganggap kekurangan mayoritas Muslim hari ini sangat kaku dan terlalu menutup diskusi soal Quran berbeda dengan sikap orang Kristen terhadap Injil dan orang Yahudi terhadap Taurat, dan saya yakin di luar sana ada seorang pembaharu Kristen yang berbicara tentang kelemahan agamanya dibandingkan agama lain—bukan temasuk mantan biarawati yang akhirnya jadi Muslim lho ya
). Dalam hal ras si Portnoy membahas bagaimana dirinya sering tertolak dan mendapat sakit hati kalau orang mulai menghubung-hubungkan dia dan kejelekannya dengan ras Yahudi-nya. Dan dalam hal keluarga dia selalu dibayang-bayangi ibunya, sampai-sampai ***-nya pada akhir cerita pun bisa dengan mudah kita simpulkan karena dia tidak bisa lepas dari bayangan ibunya.
Demikianlah, kayaknya saya harus mengeluarkan Portnoy’s Complaint ini dari daftar teliti saya untuk motif migrasi balik ini. Tapi, tetap saja, tidak pernah ada ruginya membaca karya sastra, apalagi yang cukup bagus macam ini. Eh, ingat nggak kata Stephen King: (bahkan) dari novel yang jelek pun kita bisa mengambil pelajaran, yakni pelajaran tentang hal-hal yang harus dihindari dalam menulis novel. ![]()
***= saya rahasiakan dulu ya, biar Anda sekalian nanti nggak kecewa, soalnya cukup menyentak dan asyik kalau tahu sendiri setelah baca sekitar 200-an halaman, hehehe…
No feedback yet
Leave a comment
| « Kembali ke Khittah 2007 | Ketanpanamaan dalam Invisible Man » |

