Mulai Masuk Masa Penghasil Klasik
By wawan on Aug 26, 2008 | In Sastra | Send feedback »
Uh, sampailah kita pada masa 50 tahun setelah proklamasi of independencenya Amerika. Di masa ini, kita akan dipertemukan dengan lima nama penulis yang saya yakin tak asing lagi di mata dan telinga kita sekalian. Hmm... masa ini ditengarai (kayaknya ini deh bahasa Indonesianya "ditengeri") dengan munculnya pemikir-pemikir bebas yang sangat tajam pandangan kritisnya terhadap keadaan sosial masa itu sambil tetap juga menunjukkan keterikatan yang kuat dengan alam, yang merupakan aset terbesar dan layak dipelajari di jaman itu.
Ops, sampai lupa, kali ini kita tetap berpegang pada What is American Literature?nya van Doren. Ya... namanya juga sedang merangkum buku, hehehe... Semua keterangan ini saya berhutang pada van Doren (semoga beliau mengikhlaskan hutang saya itu, karena saya nggak tahu harus membayar ke siapa ini
).
Waktu itu, kepustakaan dijejali dengan pekerjaan, "deskripsi bentangan alam yang luas, dan tulisan-tulisan tentnag binatang dan tanaman khasnya. Catatan Amerika jaman dulu, dengan memoar para pria dan wanita tersohor. Komentar-komentar mengenai hukum, pemerintah, dan kepentingan publik...." Begitulah. Yang tampak mencolok, karena tidak memiliki minat yang sama dengan tren Amerika pada masa itu adalah orang-orang New England. Tiga jagoan yang mencolok di antara mereka adalah Emerson, Thoreau, dan Hawthorne.
Yang patut dibahas pertama (karena paling tua) adalah Emerson, yang merupakan seorang pemikir yang mengajak jamannya berpikir bebas, melepaskan diri dari kungkungan Ortodoksi Lama. Van Doren dengan sangat tegasnya menunjukkan pemikiran-pemikiran Emerson yang terwakili dengan sosok Man Thinking dalam bukunya The American Scholar. Kualitas seorang pemikir yang diajukan Emerson terasa erat sekali kemiripannya dengan sosok Leather-Stocking yang dikisahkan oleh Cooper. Dia menginginkan seorang manusia Amerika memiliki "semangat liar" (saya terjemahkan dari "animal spirit" sih hehehe).
Selanjutnya ada Thoreau, seseorang yang pastinya sangat kita kenal lewat baris kalimatnya yang "kesasar" ke film The Dead Poets' Society: "I went to the woods because I want to live deliberately" Yang merupakan fakta baru buat saya (sori ya... saya dulu kurang gaul sama sastra Amerika
) adalah bahwasanya si Thoreau ini bener-bener pernah memutuskan tinggal di hutan. Deskripsi van Doren tentang Thoreau sungguh membawa imajinasi saya pada seorang sastrawan nyastra yang ngotot (berikut ini terjemahan liar saya): nggak mau mbayar pajak, nggak ikut pemilu, nggak ke gereja, (eits... kalau Anda para sastrawan sudah melakukannya, jangan puas dulu, jangan samakan dulu dengan Thoreau, karena dia masih punya sifat lain), nggak makan daging (nah!), nggak mabuk (bisa nggak?), tembako pun nggak ngerti gunanya (nah loe). Dia menentang segala yang dia anggap salah. Dia berguru pada alam, dan sekali lagi menggemakan sosok Leather-Stocking. Dia meyakini negara tidak benar, sehingga tidak mau membayar pajak dan patuh kepada mereka, hingga pernah mendekam di bui karenanya.
Nah, kalau nama yang ketiga ini saya yakin semua mahasiswa sastra Inggris kenal betul: Hawthorne. Dia tidak menuliskan ajaran-ajaran yang sifatnya definitif atau abstrak. Dia menyampaikan pandangannya lewat kisah-kisah (saya nggak sadar, setelah baca ulang, ternyata kalimat asli van Doren mirip ini
), yang tentunya dengan harapan kita sendiri yang bisa menyarikan tilawahnya. Kisahnya yang paling mujarab, yakni The Scarlett Letter, menurut van Doren, benar-benar mewakili pemikirannya. Lagi-lagi, pembaca akan mendapatkan lecutan untuk membebaskan diri dari kungkungan norma-norma lama di sini. Dari sebuah buku lain, yang merupakan kumpulan esai para penulis India tentang sastra Amerika yang berjudul Studies in American Literature saya mendapatkan seorang penulis yang mengajukan argumen bahwa sastra Amerika dipenuhi dengan pencarian jati diri. Dan Hawthorne ini benar-benar bisa mewakilinya.
van Doren menggolongkan Hawthorne bersama dua penulis lain, yakni Melville dan Poe sebagai pemikir yang mengungkapkan pandangannya lewat cerita.
Melville, seorang petualang sejati keturunan Inggris dan Belanda, menyampaikan kisah yang sebenarnya tak jauh dari pengalamannya sendiri sebagai awak kapal penangkap paus yang berangkat dari New England. Dipadu dengan perhatiannya kepada agama, dia masukkan kisah paus Mocha Dick ke dalam bukunya, Moby Dick. Saya lihat sejumlah esai yang menghubung-hubungkan kisah Moby Dick ini dengan perlambangan keadilan dan ketidakjujuran, ada juga yang menjadikannya alegori kehidupan Amerika pada masanya. Yang pasti, memang banyak yang bisa dipetik dari karya Melville. Kalau saya simpulkan dari van Doren, Melville sendiri ingin mengalegorikan bagaimana Amerika yang penuh tenaga di masa itu mencoba melawan alam, seperti halnya Ahab yang ngotot ingin membunuh si paus Moby Dick, tapi tak kunjung berhasil.
Dan terakhir, tanpa banyak cingcong, van Doren menyinggung Edgar Allan Poe, seorang keturunan Inggris yang sekolah di Inggris. Meski hidupnya penuh dengar gejolak, karya sastra Poe terasa tenang, dan suram. Van Doren menyebutkan bahwa bagi Poe, apapun gejolak yang ada dalam kehidupan seorang penulis, dia harus tetap menggunakan akal sehatnya dalam berkarya, agar tujuan yang ingin dicapainya dengan tulisan itu benar-benar terwujud. Baginya, kecantikan (dalam karya sastra) harus disampaikan dengan kalkulasi yang matang, bukan karena kebetulan para pembaca bisa menemukannya. Oleh karena itulah, cerpen-cerpennya dia buat dengan perhitungan yang matang, setiap cerita hendaknya memberikan satu dampak kepada pembacanya, dan harus benar-benar mengKO pembaca. Begitulah Poe, sang penemu genre cerita detektif.
Demikianlah lima penulis yang menjadi tonggak karya-karya klasik Amerika.
Sementara rangkuman kita sudahi dulu....
No feedback yet
Leave a comment
| « Daisy Miller: Hmm... Ngepop apa Msikologis apa Ngrealis Saja apa Ngontemplatif? | Apa Hubungannya Literatur Amerika dengan Revolusi dsb? » |
