"Mulai Matinya" Manusia dalam Sastra Amerika
By wawan on Jul 15, 2009 | In Pambuka, Sastra | 4 feedbacks »
Oke, intinya, setelah membaca sastra realis Amerika, yang seiring dengan bangkitnya Gilded Age, Masa Emas, yang banyak mengunggulnya daya manusia dalam mengolah Amerika dari negeri agraris menjadi negeri industri, kini kita masuk ke dalam wilayah sastra yang sering disebut sebagai Naturalis.
Kebetulan, penulis aliran Naturalisme yang saya bahas dan saya nikmati benar-benar waktu itu adalah Frank Norris. Saya melihat, ternyata inilah saatnya manusia mulai tumbang. Kenapa manusia tumbang? Ada kekuatan baru yang muncul, sebuah kekuatan impersonal, yang disebut korporasi, pada akhir abad ke-19. Korporasi ini sangat kuat karena, berbeda dengan manusia, dia tidak dilengkapi oleh nurani. Dia digerakkan oleh logika laba.
Di sinilah, manusia yang seringkali harus mengalah demi mengikuti hati nurani menjadi bulan-bulanan di hadapan sang pengeruk laba ini.
Dalam novel The Octopus karya Frank Norris yang saya jadikan bahan bahasan beberapa bulan kemarin, tampak bagaimana individu-individu petani gandum di Lembah San Joaquin, California, yang terkenal subur itu menjadi bulan-bulanan Jawatan Kereta Api Barat Daya. Berbeda dengan jawatan kereta api di Indonesia yang dikelola oleh negara, Jawatan Kereta Api Barat Daya ini adalah sebuah perusahaan swasta yang terlebih dulu memegang hak atas sejumlah besar lahan yang dulunya kosong di Lembah San Joaquin.
Para petani ini diperas habis-habisan oleh sang Jawatan melalui penekanan harga angkut gandum yang dilambungkan tanpa ukuran, harga jual lahan yang tidak kira-kira, pengambilan paksa lahan ketika hendak panen, dst. Di sinilah, manusia kelihatan lemahnya.
Untuk lebih lengkapnya tentang telaah ini, silakan ambil di sini.
4 comments
Kisah yang menarik tentang bagaimana kapitalisme dan keserakahan selalu menyiksa yang lemah dan miskin. Tentunya orang yang tidak beragama akan melakukan itu. Btw, saya download filenya trus baca... (bahasa inggris ya? pelan2 aja bacanya...)
@ azeez: begitulah saudara
@ origami: hmm... begitulah mog, yang terlihat tidak seperti yang sebenarnya...
Leave a comment
| « Ngajak Radikal | salah bahasa ala anak band » |

