Pembunuhan "Tuhan"
By wawan on Jul 26, 2008 | In Sastra | Send feedback »
Membaca kembali pengantar Nietzsche yang dibikin St. Sunardi (yang semestinya sudah cukup tanpa perlu didampingi Goenawan Mohamad,
, sok anti TUK hahaha) kembali menyentuh sendi-sendi kepemimpian saya. Bagaimana tidak, sejauh ini, saya yang masih kelimpungan memahami dunia kepenulisfiksian dan banyak menyangatkagumi James Joyce dan Jorge Luis Borges ini jadi berpikir kembali. Apa benar yang saya lakukan dengan "pemujaan" terhadap dua orang ini?
Kalau dipikir-pikir, saya terkadang berlebihan memperlakukan dua orang itu. Terkadang, saya suka mengoverestimasi mereka, mengkhusnudzoni mereka. Saya anggap hal-hal rumit yang ditulis Joyce sebagai sebuah keunggulan (padahal orang lain dibikin kesulitan olehnya ... dan saya sendiri pun dibikinnya kesulitan memahami pada awalnya). Saya menganggap dingin dan kekakuan bahasa Borges sebagai sebuah kehebatan dia dalam bermain teknik (padahal yang sejujurnya saya belum pernah membaca cerpen-cerpen Borges yang menyentuh hati saya--semua menyentuh cerebrum saya
.
Sekarang, waktunya saya bunuh dua orang itu dengan lebih bijak.
Versi editan jam 9 malam. Sori tadi kepotong anak saya bangun
. Begini maksud saya, selama ini sering kali tanpa sadar maupun dengan sadar saat menghadapi seorang sastrawan yang sebagian besar karyanya sangat saya sukai (atau ada karyanya yang saya sukai) saya langsung berpikiran baik (khuznudzon) saat menghadapi karyanya yang sulit dipahami dan dirasa tidak cocok. Seringkali kita langsung beranggapan bahwa ada satu hal yang pasti membuat bagian yang tidak cocok ini layak muncul di sini. Atau gampangannya, karena yang nulis ini si penulis idaman yang pernah hebat dalam banyak karya, pasti sebuah ketidakenakan muncul di karyanya karena disengaja oleh si penulis idaman ini. Nah, di sini sepertinya telah terjadinya syirik kecil. Telah terjadi semacam penuhanan terhadap sesuatu. Dengan penuhanan seperti ini, kita tidak lagi kritis, letupan-letupan pemikiran kita yang bisa-bisa benar menjadi teredam. Nah, di sinilah, dengan kembali menggauli Nietzsche setelah sekian lama pisah, saya jadi sadar untuk selalu "berperahu menghadapi riak ombak". Saya jadi harus selalu waspada, bisa jadi ketidakbagusan itu karena memang tidak bagus, sambil terus mencari-cari sebab yang sekiranya masuk akal untuk saya mengatakan bahwa ketidakenakan itu memang disengaja atau karena kecelakaan.
Dalam kasusnya Joyce, saya masih terus mempertanyakan kesulitdihapamian karya-karya terutama dalam permainan bahasa yang di satu sisi bisa dipahami sebagai keunggulan karena telah "meramalkan" kesadaran orang-orang akan sebuah penanda tanpa petanda (seperti yang suka dikutip oleh Goenawan Mohamad dari Finnegans Wake). Apa bukannya dengan kesulitdannyaristidakbisadipahamian tersebut karya Finnegans Wakenya pak Joyce akan lebih gampang terjerembab ke dalam kesiasiaan? Dan untuk kasus Borges, kehanyamenyentuhotakan sejumlah karyanya sepertinya perlu disikapi dengan lebih jelas lagi.
Kali ini, pembunuhan "Tuhan" itu bukan hanya dilakukan dengan cara menunjukkan ketidakbagusan, tapi untuk meragukan dan kemudian saya akan tetap berdialog dengan karya-karya kedua orang itu sehingga saya tidak terus memuja (yang mana mempertuhankan karya itu) ataupun langsung menolak (yang mana menemukan pulau tempat berpijaknya keputusan saya secara paten). Jadi, saya akan terus terombang-ambing saja di kapal. ![]()
No feedback yet
Leave a comment
| « Keabadian Manusia | Pandangan dalam Menulis » |
