Comment from: Maman S Mahayana [Visitor]
Terima kasih Anda sudi membaca buku saya. Sedikit komentar saya tentang pernyataan: "menulis cerpen bukan sekadar latihan menulis novel" sesungguhnya hendak menolak pernyataan HB Jassin, bahwa para penulis cerpen, laksana sedang belajar menulis novel. Bahwa kemudian saya berharap para penulis cerpen bisa menulis novel, itu lebih baik lagi. Tetapi, tetap saja tidak berarti menulis cerpen sedang berlatih menulis novel.
Terima kasih

Salam
Maman S Mahayana
26/01/09 @ 16:09
Comment from: wawan [Member] Email
pak maman,
terima kasih juga anda bersedia mengikuti google sampai ke sini, dan bahkan telah berbesar hati memberikan komentar.
iya, saya memang melihat tidak ada secara langsung anda mengatakan menulis cerpen sebagai latihan untuk menulis novel, tapi saya menangkap adanya pandangan bahwa novel tetap lebih baik daripada cerpen. padahal, kalau dari jaman sentimentalisme dalam sastra amerika (sekitar tahun 1848-1860), ada penulis yang menyebutkan (kalau nggak salah sarah payson willis payton) mengatakan bahwa dia mengaku tidak mampu menulis cerpen, salah satunya karena mengolah kisah untuk ruangan yang tidak luas itu bukan hal gampang. mungkin anda juga lihat di postingan saya yang lain (tentang sentimentalisme itu) bahwa para penulis senior, termasuk hawthorne sampai menjuluki para penulis sentimentalis itu "the scribbling women" saking gampangnya mereka menulis novel.
saya sendiri cenderung menganggap ada tingkat kesulitan yang sifatnya personal di sini. ada teman yang dengan santainya menulis novel dan tdk bisa menulis cerpen, dan sebaliknya.
tapi yang jelas, tenaga yang dibutuhkan untuk nulis novel pasti lebih banyak :D...
btw, kok blog anda agak tidak beres pak? tempo hari saya pingin nulis komen tidak bisa...
26/01/09 @ 18:51
Comment from: tuan malam [Visitor] · http://tuanmalam.blogspot.com
Menarik, Mas Wawan.

Saya ingat benar, Goenawan Muhamad pernah memberi pengantar dalam kumcer karya Bondan Winarno berjudul Cafe Opera, bahwa di masa buku itu terbit (1980-an) banyak penulis muda yang getol menulis novel-novel filsafat kelas tinggi yang susah dicerna. Mereka tidak memulainya dengan menulis cerpen.

Walau tidak menjadi hukum bahwa cerpenis baik selalu = novelis baik, tapi tak ada salahnya memulai segala sesuatu dari yang sederhana, menuju yang kompleks. Nah, itulah mungkin yang dimaksud Pak Goenawan.

Tapi, dari posting dan komentar Mas Wawan: manakah yang lebih sederhana atau lebih kompleks di antara menulis cerpen atau menulis novel? Kita kembalikan pada pilihan penulisnya.

Tabik,
~s.n~
18/02/09 @ 01:51
Comment from: Simpet soge [Visitor] Email · http://simpetadonara.blogspot.com
Saya setuju dengan pendapat bahwa menulis cerpen tidak sama dengan latihan menulis novel. Alasan saya, bahan/teks dari latihan membuat novel tidak dapat dijadikan cerpen. Kalau dalam novel, jumlah halaman dari satu unsur saja (misalnya setting tempat kejadian), banyaknya bisa sama dengan satu cerpen. Kan tidak mungkin kalau cerpen hanya menggambarkan setting. Coba tengok saja latihan unsur2 itu di latihan menulis novel dalam buku 'belajar dari sastrawan dunia'. Pasti percaya bung.ok, Salam kenal buat semua.
25/08/09 @ 02:10

Leave a comment


Your email address will not be revealed on this site.

Your URL will be displayed.
(Line breaks become <br />)
(Name, email & website)
(Allow users to contact you through a message form (your email will not be revealed.)
« Sentimentalisme dalam Sejarah Sastra AmerikaWilliam Dean Howell, Menyerap Jaman, Meramal Depan »