Seduikit Tentang Bermain dengan Cerpen
By wawan on Jan 6, 2009 | In Sastra, Fenomena | 4 feedbacks »
Saya mendapatkan buku "Bermain dengan Cerpen" karya Maman S. Mahayana melalui layanan Interlibrary Loan di perpustakaan kampus saya--sebenarnya saya sudah punya dan pernah membaca buku ini di rumah. Mungkin orang akan menganggap ini aneh, jauh-jauh ke sini eh... bacanya buku Indonesia lagi... well, kalaupun itu harga yang harus saya bayar, dikatai aneh, saya sungguh siap. Buat saya, nggak rugi kok meluangkan waktu beberapa minggu untuk menyeriusi sastra negeri sendiri... mumpung liburan hehehe...
Saya sebenarnya memiliki agenda sendiri dengan membaca buku ini, tapi ah... nanti sajalah saya ceritakan agenda saya itu. Sekarang, saya pingin cerita sedikit tentang peltikan pikiran yang saya rasakan ketika membaca bukunya pak Maman ini:
Ada sebuah pelajaran bagus yang saya dapatkan. Maman S. Mahayana mencoba mengorek lebih jauh dalam sejarah literasi nusantara. Berbeda dengan Ajip Rosidi yang menganggap cerpen Indonesia berawal dari masa 1910-an, masanya Suman HS, Muhammad Kasim, Armijn Pane, dan Idrus, Maman menemukan fakta-fakta bahwa cerpen nusantara itu sudah pada periode 1880 hingga 1928, ketika cerita pendek muncul di media massa bertumpang tindih dengan cerita, hikayat, dll.
Selain itu, Maman juga berargumen, melihat fakta yang ada sejak masa 1880-an itu, bahwa kelahiran cerita pendek Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kehadiran media massa. Hal ini terbukti dari banyaknya cerpen dimuat secara rutin di media massa. Jika para pencatat sejarah sastra sebelumnya banyak melakukan periodisasi cerpen Indonesia melalui kumpulan-kumpulan cerpen, maka hal itu bisa dibilang tidak sahih lagi. Mempelajari cerpen Indonesia sedikit banyak juga harus mengakui arti penting koran, terutama sekarang koran minggu, yang selalu menghadirkan cerpen.
Selain itu, saya juga menemukan sejumlah kontradiksi dalam argumen2 Maman. Di satu pihak saya melihat bagaimana dia sangat optimis dengan cerpen Indonesia dan well... bisa dibilang mengakui eksistensinya. Di satu esai awal dia menyebutkan cerpen bukan sekedar latihan sebelum menulis novel, tapi eh... di esai lain dia mengharapkan sejumlah cerpenis menunjukkan karya besar yang berpuncak pada menulis novel. Itu cuman salah satunya...
Well, anyway, setidaknya, banyak sekali informasi yang saya dapatkan dari situ, dan sekarang, rasanya saya mendapat ide untuk membaca E.U. Kratz. Dan meskipun mungkin kurang berkenan di mata Maman S. Mahayana, saya akan membaca Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara, karena di situ saya yakin saya bisa mendapat sesuatu tentang korelasi antara kemingguan dan kecerpenan. Halah...
4 comments
Terima kasih
Salam
Maman S Mahayana
terima kasih juga anda bersedia mengikuti google sampai ke sini, dan bahkan telah berbesar hati memberikan komentar.
iya, saya memang melihat tidak ada secara langsung anda mengatakan menulis cerpen sebagai latihan untuk menulis novel, tapi saya menangkap adanya pandangan bahwa novel tetap lebih baik daripada cerpen. padahal, kalau dari jaman sentimentalisme dalam sastra amerika (sekitar tahun 1848-1860), ada penulis yang menyebutkan (kalau nggak salah sarah payson willis payton) mengatakan bahwa dia mengaku tidak mampu menulis cerpen, salah satunya karena mengolah kisah untuk ruangan yang tidak luas itu bukan hal gampang. mungkin anda juga lihat di postingan saya yang lain (tentang sentimentalisme itu) bahwa para penulis senior, termasuk hawthorne sampai menjuluki para penulis sentimentalis itu "the scribbling women" saking gampangnya mereka menulis novel.
saya sendiri cenderung menganggap ada tingkat kesulitan yang sifatnya personal di sini. ada teman yang dengan santainya menulis novel dan tdk bisa menulis cerpen, dan sebaliknya.
tapi yang jelas, tenaga yang dibutuhkan untuk nulis novel pasti lebih banyak :D...
btw, kok blog anda agak tidak beres pak? tempo hari saya pingin nulis komen tidak bisa...
Saya ingat benar, Goenawan Muhamad pernah memberi pengantar dalam kumcer karya Bondan Winarno berjudul Cafe Opera, bahwa di masa buku itu terbit (1980-an) banyak penulis muda yang getol menulis novel-novel filsafat kelas tinggi yang susah dicerna. Mereka tidak memulainya dengan menulis cerpen.
Walau tidak menjadi hukum bahwa cerpenis baik selalu = novelis baik, tapi tak ada salahnya memulai segala sesuatu dari yang sederhana, menuju yang kompleks. Nah, itulah mungkin yang dimaksud Pak Goenawan.
Tapi, dari posting dan komentar Mas Wawan: manakah yang lebih sederhana atau lebih kompleks di antara menulis cerpen atau menulis novel? Kita kembalikan pada pilihan penulisnya.
Tabik,
~s.n~
Leave a comment
| « Sentimentalisme dalam Sejarah Sastra Amerika | William Dean Howell, Menyerap Jaman, Meramal Depan » |

