Comment from: Tuan Malam [Visitor] · http://tuanmalam.blogspot.com
Nemu, Mas. Ada Esti Kinasih, Dewi Lestari, Rachmania Arunita, dan lain-lain. Salut buat mereka, bagaimanapun juga. Mereka hebat, menyasar emosi kawula muda-mudi dengan tepat. Semoga aku tidak salah, kurasa kita sedang berada di tren sentimentalisme Indonesia.

Dan, yang buat aku penasaran: setelah sentimentalisme yang gencar oleh para "scribbling women" itu, tren apakah yang kemudian menjalar di Amerika?

Dengan mencoba-coba (lebih tepatnya untung-untungan) menarik persamaan (atau menyama-nyamakan), mungkin, meminjam slogan sebuah iklan rokok Avolution keluaran Sampoerna, sejak dini kita bisa....

"Begin What Next."
14/02/09 @ 06:28
Comment from: wawan [Member] Email
Hehehe... begitulah Mas Sidik. Saya langsung ingat dengan teenlit dan chicklit kita itu waktu sedikit menelusuri dengan karya-karya Sentimentalist ini. Mereka ini juga sebenarnya sekarang mulai agak dihargai lho mas (dalam hal penyuaraan kontennya, bukan bentuknya :D), soalnya ya... yang mereka ungkapkan itu ada betulnya juga. Yah, namanya juga sastra, yang bahan2nya dari kehidupan. Meskipun diefek sana-sini, pasti ada lah elemen yang masih kelihatan nyata, dan memang begitulah kenyataan. Jadi, sedikit atau pun banyak, pasti ada potret kehidupan di situ, dan itulah yang bisa dijadikan anak cucu kita untuk melihat masa kini. Nah, masalahnya, buat orang-orang yang memandang sastra sebagai sesuatu yang serius wal-adiluhung, mereka akan bilang: TAPI KAN SASTRA ITU BUKAN UNTUK MEMOTRET KEADAAN SAJA? KAN KITA HARUS MENYAJIKAN NILAI-NILAI KEMANUSIAAN? KAN KITA HARUS JUGA MEMPERHATIKAN KECANTIKAN BENTUK BIN STRUKTURNYA?

Begitu kira-kira mas menurut mereka. Hiks2009x.

Nah, setelah sentimentalisme itu, muncullah respons2 keras oleh orang-orang seperti William DeForest, yang mengawali memotret realitas kehidupan--cikal bakalnya realisme. Dan puncak perlawanan terhadap para sentimentalis ini adalah munculnya para realis nomor wahid yang digawangi tiga orang 1) Henry "sang Master" James, 2) William "Sang Dekan" Howells, dan 3) Mark (sang apa ya? apa "Sang Kodok" hahaha, atau "Sang Pelukis Mississippi") Twain.

Satu dosen saya, ahli sastra amerika abad ke-19 Richard C. Adams, bilang bahwa, dicurigai sampai hari ini sastra Amerika masih hidup di dalam masa realisme.
14/02/09 @ 12:57

Leave a comment


Your email address will not be revealed on this site.

Your URL will be displayed.
(Line breaks become <br />)
(Name, email & website)
(Allow users to contact you through a message form (your email will not be revealed.)
« Ayo Baca Lagi Formalisme Rusia dan Kritik Baru (nanti baca lainnya juga kok :D)Seduikit Tentang Bermain dengan Cerpen »