Waktu Marco Polo Mampir di Nuswantara
By wawan on Sep 19, 2009 | In Serbasuka, Sejarah | 1 feedback »
Dua hari yang lalu seorang kawan menghadiahi kawan yang lain buku The Travels of Marco Polo. Karena penasaran, akhirnya saya google-lah buku itu. Dari situ ketahuan bahwa Marco Polo (menurut catatan ini sih) pernah mampir ke Asia Tenggara, utamanya Indonesia. Akhirnya saya tanya ke kawan yang menghadiahi buku tadi, "gimana kesannya waktu dia di Indonesia, positif? negatif? atau interogatif?"
Karena nunggu beberapa jam belum ada jawaban dari teman itu, akhirnya googlebooksearch lah buku itu, eeeee... ternyata ada buku lengkapnya edisi tahun 1858, saya bacalah akhirnya buku itu.
Keesokan harinya, teman saya, kang Sigit Susanto, menjawab di milis:
polo mencatat di pulau java minor itu ia berhenti di kerajaan basman, kalau dilihat lokasinya, mungkin sekarang jadi aceh. khusus di basman ini dijelaskan, bahasanya khusus, berbeda dgn bahasa di kerajaan lain. kerajaan sebelum basman yaitu felech, apa mungkin ini di medan? kalau dilihat letak panah di peta, seperti di kota medan. terakhir polo berhenti di kerajaan fanfur, kalau kita raba ini letaknya di sekitar pulau nias. zaman itu indonesia masih dalam bentuk kerajaan-kerajaan kecil. polo mencatat penduduk di sini telah memeluk agamanya mahomet yang dibawa para pedagang. catatan polo tentang islam itu, kupikir menarik, kalau selama ini diakui islam masuk ke indonesia di abad 15, ternyata abad 13, saat polo ke sumatra sudah mencatatnya.
polo sebut ada nuts, yang sebesar kepala seperti nuts di india. dugaanku, ini coco nuts alias kelapa. juga dirinci, kalau di java minor punya berjenis-jenis kera, terutama kera berjenggot. dugaanku, ini orangutan. juga badak. polo ngaku membawa salah satu kayu yang kuatnya mirip besi dibawa pulang ke venesia. hidangan ikan, menurutnya paling lezat di seluruh dunia yang dia pernah alami. nah pasukan gajah juga disebut. sumatra alias java minor, punya gajah banyak. ini kalau kucocokkan dengan sumber lain, tentang perjalanan vasco da gama dari lisabon ke Goa, India, sempat mampir ke sumatra, bertemu banyak pasukan gajah. zaman dulu gajah untuk pasukan perang. bahkan vasco da gama mencatat bagaimana cara orang sumatra menangkap gajah dengan cara membuat lubang di tanah.
Saya pun berbagi hasil pembacaan saya, sesuai dengan minat saya dong: dunia binatang, hahahahaha... Beginilah jawaban sahaya itu:
iya kang, aku juga baru dapat buku itu di booksearch.google.com (edisi lengkap terbitan tahun 1858, hehehe... buku purba), catatannya tentang jawa sangat sedikit, cuman satu dua paragraf. yang banyak memang catatan tentang "jawa kecil", yang di edisi saya disebut "little java" atau "java the lesser".
nah, di buku edisi saya ini ada banyak sekali catatan kaki dari para ahli sejarah, astronom, dan kartograf. nah, dari situlah beberapa makhluk dan hal ganjil yang ditemui mas polo ini coba disingkap (tentunya tidak dengan keyakinan 100%).
marco polo dengar cerita tentang manusia-manusia yg berbulu lebat dan tinggal di hutan, dia juga berjenggot. dan si pemberi catatan kaki menduga itu pasti orang utan. juga waktu di palembang, marco polo cerita tentang satu hewan sejenis "unicorn", bertanduk satu, dengan wajah agak-agak menyerupai babi hutan, suka berkubang, yang tak pelak lagi kayaknya itu hewan bacutu (badak bercula satu). tapi pertanyaan saya: berarti dulu badak juga ada di palembang ya? selain itu, marco polo mencoba mengurai misteri manusia kecil dari dataran sumatera yang dikirim ke india dalam bentuk sudah diawetkan. dia menduga itu adalah satu jenis monyet yang dicukur habis dan disisakan sedikit bulunya terus diawetkan dengan "camphor" dan rempah-rempah.
nah, dari buku inilah saya menemukan jawaban (kira-kira) atas satu misteri, kang: camphor-barus. ternyata dari sinilah istilah kapur barus atau inggrisnya mothball itu berasal. barus adalah nama kota pelabuhan (yg ternyata sekarang juga pelabuhan internasional
) tempat para saudagar kulakan kamper. oh. saya berdosa sekali tidak tahu asalnya. saya janji deh mau belajar sejarah biar kayak sampean, kang.
Begitulah diskusi kami. Kira-kira penting gak ya memposting hasil diskusi ke blog seperti ini? hehehehe
1 comment
Leave a comment
| « The Autobiography of Malcolm X: Memang, Yang Tetap Cuma Perubahan | District 9: Fiksi yang Mulai Mengklaim Wilayah Fakta » |

