clear your mind of questions!!!
By wawan on Jun 5, 2009 | In Serbasuka | 1 feedback »
pasti para penggemar star wars tahu siapa yang mengatakan ini. ya, yoda!
tapi, para "penggemar" tafsir quran juga tahu siapa yang kira-kira akan mengatakan ini. ya, the green stranger, sosok bertudung hijau, dalam surat al-kahf, yang banyak ditafsirkan bernama khaidir, seorang nabi, ketika menyatakan syarat jika musa ingin menjadi muridnya...
and guess what, yoda si guru jedi (rima konsonannya enak jg ya?
) itu warnanya hijau...
halah... kok dihubung-hubungkan.
yg jadi misteri sekarang, kenapa pertanyaan memiliki konotasi negatif? padahal, dalam budaya kita sekarang-sekarang ini, bukannya orang sangat menghargai pertanyaan? bukannya thomas alfa edison waktu kecil dijuluki "si mengapa" (menurut sebuah artikel di majalah kuncup waktu saya kecil dulu sih, hehehe)? bukannya orang tua sekarang bangga sekali kalau anak kecilnya suka membantah dengan pertanyaan-pertanyaan yang kekanak-kanakan, dan bilang kalau dia bakal jadi anak pinter kalau gede?
hmmm...
apakah dengan bertanya artinya kita menyeleksi sendiri apa-apa yang ingin kita pelajari, bukannya membuka hati dan pikiran untuk menerima apa2 saja yang akan diberikan guru kita?
hmmm...
apakah pertanyaan memang tidak direkomendasikan saat sedang belajar?
hmmm...
apakah bertanya hanya boleh pada level tertentu dari sebuah proses belajar?
hmmm...
saya jadi ingat ketika umberto eco ditanya lila azam zanganeh untuk paris review, "dengan buku sebanyak itu (eco punya puluhan ribu buku di rumahnya), bagaimana anda membacanya?" (sori, pertanyaannya kurang akurat, saya agak lupa, nanti deh saya edit kalau sempat buka sumber aslinya)... "ya biasa saja," kata eco, "saat saya butuh sesuatu, saya akan cari." dan dia langsung tahu di mana hal-hal yang dibutuhkannya itu ada...
ini bisa dihubungkan dengan fenomena internet. eco kuatir soal internet jika jatuh ke tangan orang yang lagi belajar. misalnya, seorang wawan eko (bukan keponakannya umberto eco lho
) mencari tentang post-kolonialisme, dan menyerahkan nasibnya kepada sir google dot com, maka dia akan mendapat berjuta-juta link yang bisa diklik terkait item yang dicarinya itu... dia akan galau, dia akan subconsciously tersedak dengan banyaknya link yang harus dia baca. beda lagi ceritanya jika si wawan eko (masih bukan keponakannya umberto eco) belajar dulu tentang post-kolonialisme berdasarkan daftar bacaan yang diberikan gurunya, menyelesaikan daftar bacaan itu dulu, dan baru kemudian kelak (kalau ada sesuatu yang terlupa) dia mencarinya di sir google dot com (mungkin kelak sudah menjadi lord google dot com,
), meskipun dia mendapat berjuta-juta link, dia pasti bisa dengan mudahnya memointer (maksudnya= menunjuk link itu dengan pointer) link-link mana yang dia butuhkan. artinya, di sini guna sir google dot com hanya sebagai katalog sahaja...
hmmm...
begitukah? tapi, jika anda tidak bertanya, apakah anda tidak takut menjadi "terarahkan", bukan mengarahkan kehendak anda sendiri?
hmmm...
yang pasti, saya sudah terlalu banyak bertanya di sini. bukan begitu? halah... bertanya lagi. tapi apa ini pertanyaan? halah... bertanya lagi. betul nggak? halah... bertanya lagi!!!
1 comment
Leave a comment
| « salah bahasa ala anak band | Mengapa Kita Filter Dunia saat Mendekati Sastra Kita? » |

