District 9: Fiksi yang Mulai Mengklaim Wilayah Fakta
By wawan on Sep 13, 2009 | In Serbasuka, Fenomena | 6 feedbacks »
Arie Saptajie, seorang penulis dan peresensi, membuat sebuah resensi yang menarik atas film District 9. Dia mempostingkannya di milis Apresiasi Sastra dan blognya. Ada satu paragraf penyimpul yang menarik buat saya, yang bunyinya:
Bisa jadi, District 9 sedang menyindir cara kita memperlakukan orang lain. Kecenderungan kita mengambil jarak berdasarkan perbedaan---beda agama, beda warna kulit, beda status sosial, atau bahkan sekadar beda hobi. Dan, kegagapan kita menyambut orang lain yang berbeda itu sebagai sesama manusia. (kalau ingin baca lengkapnya, silakan klik di sini.
Dan karena tertarik dengan gagasannya itu, saya pingin menanggapi dan menambahkan sedikit. Saya postingkan tanggapan saya tersebut di Apsas. Begini tanggapan saya itu bunyinya:
wah, renungan penyimpul yang asyik, mas arie. menggugah. film itu memang cocok dikaitkan dengan bangsa-bangsa yang memiliki sejarah masa lalu (atau fenomena masa kini) yang berbau diskriminasi dan segregasi. dan tepat sekali rasanya saat film itu bersanding anteng di gedung bioskop dengan film "inglorious basterds". sama-sama berkaitan dengan rasisme dan ghettoisasi. bedanya, memang, dalam "district 9", penulis cerita menarik rasisme sampai ke sisi terjauhnya, menghiperbolakannya secara rapi dan memberinya bingkai science fiction. kayaknya, gak salah kalau kita menyebutnya sebagai film transgenre.
selain itu, ada hal lain yang patut dijadikan perhatian, meskipun dengan tidak terlalu serius: segala "aksesoris" di seputar "district 9". yang saya maksud "aksesoris" ini bukan hanya kaos, topi, boneka, atau lain-lainnya, tapi situs statis, blog, font alien, poster, video dan segala macam hal yang mendukung promosi tersebut. semuanya semacam upaya memperluas dunia imajinasi film sampai melewati batas layar film. segala "akseesoris" tersebut diletakkan di ruang publik tanpa disclaimer bahwa itu film atau fiksi. di sekitar gedung bioskop mungkin den mas arie akan lihat poster-poster tentang anti-segregasi manusia-alien. bahkan ada video-video tambahan yang menjelaskan fakta-fakta sosial dan biologis tentang alien itu. atau, kalau sempat iseng, silakan ikuti labirin website www.d-9.com itu, hehehe... kayak beneraaaaan saja
.
dan yang mungkin akan menggelitik para feminis adalah: alien-alien itu diasumsikan hermaprodit, tapi sikap sosial mereka lebih menyerupai sikap maskulin (atau mungkin sikap yang saya klaim sebagai maskulin, heheheh). ah, mungkin nggak sesederhana ini. yang pasti, buat mereka yang luang waktu dan tertarik, banyak yang bisa dieksplorasi dari "fenomena" d9 ini--ya, di sini saya lebih tertarik menyebutnya "fenomena district 9", karena sepertinya terlalu sempit kalau saya hanya menyebutnya "film district 9".
atau, mungkin saja saya yang terlalu mengada-ada. hehehehe...
btw, kalau menurut beberapa resensi di media massa, terutama di newsweek dan new york times, salah satu daya sentak "district 9" ini adalah pelanggaran konvensi yang dilakukan pembuat filmnya: dia keluar dari pakem film science fiction holywood yang biasanya berisi 1) alien cerdas dan berteknologi sucang (super canggih maksudnya, heheheh), 2) alien datang untuk menyerang bumi dan turun di kota-kota besar amerika dan melibatkan pemerintah amerika dengan segala penghancuran gedung-gedung bertingkatnya, 3) cerita yang diakhiri dengan pembasmian atau kemenangan manusia tapi di frame terakhir akan terlihat "sisa-sisa" alien yang berpotensi menimbulkan kekacauan sejenis di masa yang akan datang.
sementara begitu dari saya den mas arie. terima kasih buat resensinya yang menggugah. ![]()
salam,
wawan
6 comments
dan yang kedua soal apa yang ditangkap arie ketika film ini dianggapnya "... menyindir cara kita memperlakukan orang lain."
sudah tiga kali mau nonton film ini sama teman kos, tapi selalu gagal.
so: harus tonton!
salam,
semoga cepat bisa nonton
Tabik.
Leave a comment
| « Waktu Marco Polo Mampir di Nuswantara | Status* » |

