a Kontinuous attempt despite typos … since 2007 (halah!)

Posts Tagged ‘andrea hirata’

Siapakah Arai? Siapakah Lintang?

Kedua pertanyaan itu dijamin akan menggelitik pembaca tetralogi Laskar Pelangi, khususnya setelah pembaca tersebut tahu bahwa tetralogi tersebut didasarkan–menurut publisis tetralogi tersebut dan Andrea Hirata sendiri–pada kisah nyata dalam hidup penulisnya.

Saya pernah mendengar kabar bahwa salah seorang anggota dari Laskar Pelangi bilang bahwa tokoh yang seperti Lintang itu sebenarnya tidak ada dalam kehidupan masa kecil mereka. Seingat mereka, tokoh yang memiliki kecerdasan serupa Lintang di tetralogi tersebut adalah Andrea Hirata sendiri–dan tentunya si “Lintang” tidak hadiri dalam setiap penampilan bersama para mantan eksponen Laskar Pelangi.

Begitu juga dengan tokoh Arai yang tidak juga pernah muncul, dan kita hanya tahu “keberadaannya” dari pernyataan Andrea Hirata sendiri bahwa tokoh Arai itu saat ini masih ada tapi tidak mau ditunjukkan identitasnya. Pembaca curiga tentang kebenaradaan Arai ini karena sedikit pun si Arai ini tidak disinggung dalam cicilan pertama tetralogi ini, dan baru ada–dan langsung menjadi bintang–pada cicilan kedua, yaitu Sang Pemimpi.

Nah, saya mengajak para pembaca budiman sekalian untuk sedikit melupakan kekisahnyataan tetralogi ini–btw, ada tokoh penerbitan Indonesia yang menyebut tetralogi ini sebagai literary non-fiction. Saya ingin menawarkan sedikit saja unek-unek terkait tetralogi tersebut sepembacaan saya.

Bagi saya, Arai dan Lintang adalah tokoh yang menonjol dalam sebuah tetralogi yang spesiesnya bisa novel bisa juga creative non-fiction. Kehadiran mereka berdua berfungsi sebagai “tokoh kita” bagi para tokoh lain di kisah tersebut, sekaligus bagi pembaca. Kedua tokoh ini membuat kisah semakin rapat dengan cara menjadi benar merah yang … mengikat. Lintang mengikat cita-cita pendidikan anak-anak SD Muhammadiyah, berjuang mulai dari adegan pendaftaran, kesulitan sekolah karena harus membantu orang tua, hingga akhirnya mewujudkan kemenangan mereka di lomba cerdas cermat.

Sementara itu, Arai adalah tokoh kuat yang selalu menyemangati, membimbing, dan menjaga narator agar terus bertahan hingga akhirnya mimpi mereka terraih. Dia bertugas memberi satu kalimat lecut “Bermimpilah karena Tuhan akan merengkuh mimpi-mimpi kita” dan melindungi si narator dengan segenap kecerdasannya. Dia juga menjadi penyeimbang si narator melalui kegemarannya atas The Doors (yang bisa dibilang berseberangan dengan “Kak Rhoma”), dia menyenangi pengetahuan-pengetahuan biologi mendasar yang terbukti berhasil menyelamatkan Ikal (sementara Ikal di-setting menyukai sejarah dan sastra), dst.

Terus, terkait dengan ucapan salah seorang mantan eksponen Laskar Pelangi yang bilang bahwa “Lintang” itu sebenarnya ya Andrea Hirata sendiri, saya juga ingin urun ide: Andrea Hirata mengeluarkan sisi-sisi “sempurnanya” untuk dijadikan Lintang, yang membuat kisah ini–kalaupun benar-benar berdasarkan kisah nyata–tidak tampak terlalu mengunggulkan si narator atau penulis, meskipun memang unggul. Dia adalah sisi sempurna Andrea yang dikeluarkan sejenak. Sementara itu, Andrea Hirata cukup puas menampilkan diri dalam sosok Ikal, yang bisa dibilang semi-alter ego-nya.

Karena itulah, setelah Laskar Pelangi usai, dan Andrea Hirata sudah memutuskan “menyisihkan” Lintang dengan cara membuatnya tidak dapat melanjutkan sekolah dan ujung-ujungnya menjadi sopir truk, Andrea Hirata harus menemukan wujud baru untuk sisi “sempurna”nya itu. Di situlah hadir tokoh Arai. (Dan, ehem, “arai” sendiri agak mirip dengan kata “array” dalam bahasa Inggris yang bisa berarti “An orderly arrangement” atau “An impressive display” atau “Especially fine or decorative clothing,” atau kalau masih kurang lagi bisa juga berarti … “An arrangement of aerials spaced to give desired directional characteristics.” Begitulah, saya curiga bahwa si Arai nan cool ini adalah kumpulan sifat yang baik-baik dari si Andrea Hirata :D )

Arai sendiri sebagai seorang tokoh tunggal sangatlah “mencurigakan” menurut saya, karena dia begitu menyerupai Andrea Hirata (bukan Ikal!). Arai adalah seorang mahasiswa ilmu Biologi, begitu menggemari Harun Yahya, dan berhasil menyelamatkan Ikal dengan pengetahuan Biologinya itu. Dan, semoga Anda tidak lupa bahwa Andrea Hirata banyak memamerkan nama-nama Latin tanaman dalam cicilan pertama, Laskar Pelangi, yang saking banyaknya sampai-sampai banyak menukai kritik (mungkin dari orang-orang yang, ehem-ehem, iri karena cintanya kepada Biologi tidak sebesar cintanya Andrea Hirata :D ). Dan hal ini semakin ganjil ketika pada Sang Pemimpi, tebaran nama-nama Latin itu tidak sekerap pada cicilan pertama.

Akhirul investigasi, saya ingin berterima kasih kepada Andrea Hirata yang berhasil menyajikan ke meja saya bacaan yang sangat bisa dinikmati, mengetuk-ngetuk emosi, menyentil-nyentil pengetahuan sejarah saya yang cethek, dan memperkenalkan geografi Eropa (yang tentunya tidak saya akrabi). Mungkin, tanpa keberhasilan Andrea Hirata menyajikan bacaan yang sangat nikmat ini, saya tidak akan sampai tergelitik untuk menginvestigasi secara sok strukturalis (:D)ke hal-hal yang menggelitik saya ini. Dan, ya, saya sendiri tidak tertarik menuntut Andrea Hirata memberikan pernyataan apakah kisah ini fiksa (:fakta) atau fiksi. Mungkin saya sendiri akan memutuskan nanti akan menyebut tetraloginya ini fakta atau fiksi. Sejauh ini sih saya menganggapnya fiksi, dan tunggulan alasannya kenapa saya menyebutnya demikian (sekaligus saya akan menyodorkan hasil investigasi saya atas misteri kata “Edensor”).

Tags: ,

Points to Ponder from Andrea Hiratas

Seperti saya bilang kemarin, kali ini saya akan mencoba menyodorkan hal-hal yang bisa didiskusikan atau poin-poin dari laskar pelangi yang bisa ditelusuri lebih jauh untuk dijadikan semacam penelitian.

Eit, sebelumnya saya pingin menyinggung sedikit soal tren dalam kritik sastra atau sosial yang saat ini lebih banyak mengarah ke ranah cultural studies, poskolonial studies, atau (khusus untuk Indonesia) posordebarunanrepresif studies (hehehe). Sebagaimana kita tahu (wiyyuuh, dosen abis bos!), dalam ranah-ranah kajian itu seorang pengkaji cenderung menggunakan karya (baik sastra, komik, film, atau lukisan) lebih sebagai alat pemantik, titik keberangkatan, untuk menjelajahi medan-medan luas kehidupan sosial. Karya-karya sastra disinggung sebatas persentuhannya dengan realitas sosial (baik yang tampak gamblang maupun yang hanya tersirat-sirat saja). Hmm… rasanya mulai abstrak ya diskusi kita (hehehe…). Makanya, sekarang langsung saja ke poin-poin pemantik penelitian tadi.

Oke, karena saya baru baca Sang Pemimpi (yang ya… baru saya sadar ternyata mirip hamba Si Pemimpi blogger sahaya penerjemah jelata ini, hehehe…) dan Edensor, jadi ya cakupan poin2 penelitian itu hanya berkisar dari kedua buku tersebut. Berikut ini:

1. tentang nasib Belitong yang hasil alamnya dikuras tapi rakyatnya tetap miskin dan nirpendidikan (kita bisa lihat kesan ini di sekujur novel, meskipun Andrea sendiri pada Sang Pemimpi tidak menunjukkan kebencian kepada Jawa, bahkan lebih memandang Jawa sebagai tempat pembelajaran…meskipun sesekali ada kesan samar yang rahasia, amboi… sungguh rahasia).

2. hal tersebut merambat pada timbulnya sikap sosial yang kurang percaya diri, menaruh harapan besar (hingga bersikap keras) kepada generasi muda (sebagai pelampiasan ketaktercapaian mimpi-mimpinya) (untuk yang ini kita bisa melihatnya pada Pak Mustar, Pak Balia, dll)

3. sikap sosial bangsa Indonesia (secara umum) yang sangat suka bermimpi dan mungkin bisa bertahan hidup berkat mimpi-mimpi itu, karena kondisi sosial memang tidak memungkinkan hadirnya kenyataan yang indah.

Dan banyak lagi yang lainnya (nyanyinya dengan gaya Kak Rhoma ya? hehehe…). Besok deh lagi….

Tags: ,

Apa Bedanya Andrea Hirata dan Sastrawan?

Kita, orang-orang yang suntuk belajar sastra ini, mencoba menyampaikan hal-hal sepele dalam hidup kita dengan cara yang luar biasa, indah bukan buatan. Bahkan, banyak dari kita menciptakan tema-tema absurd dari permasalahan-permasalahan yang hanya sangat sublim dalam hidup kita. Ya. Hal-hal yang bagi banyak orang bukan masalah (seperti halnya membeli barang karena terbujuk iklan, misalnya), akan menjadi topik cerita absurd yang dahsyat buat seorang sastrawan kriya dan pemikir mendalam.

Lain halnya dengan Andrea, dia ceritakan kisah-kisah besar hidupnya, kehidupan seorang lelaki zenith dan nadir, kehidupan seorang (ah, dua orang kalau Arai juga dihitung sebagai co-tokoh utama) pemuda yang bejibun pengalaman dengan cara yang sederhana, banyak ketawa, nyaris tanpa teknik sastra yang canggih. Dan apa… itulah yang dibutuhkan pembaca jaman sekarang yang sebagian besar tidak mau repot-repot menelaah keindahan seni dan merenungkannya. Ya, sepertinya untuk negara macam Indonesia ini, kita harus melewati masa-masa menjamurnya sastra eskapis dulu sebelum mengharapkan keberhasilan karya sastra yang ya… seperti diimpikan para sastrawan itu.

Well, what can I say? Andrea, keep up the good work, berhentilah menulis kalau bahanmu habis. Raih dulu, Kak, mimpi untuk tinggal di desa tertinggi Himalaya. Nanti tulis lagi kisahmu. Kami menunggu kok. Kami menunggu.

Tags: ,

“Perbuatan-perbuatan kecil yang buruk tak ubahnya bayi hyena, ia akan tumbuh, dan cepat atau lambat dia akan mengepung induknya sendiri.”

Sepertinya saya pernah ngobras soal kelucuan-kelucuan Andrea Hirata ditambah dengan pengetahuan trivianya yang tidak bisa dianggap trivial. Ya, betul!!!! Dan dampaknya, kita akan sering ketemu pengibaratan-pengibaratan segar dan lucu. Ah, kok saya ulang-ulangi ya omongan ini? … ulang-ulangi ya omongan ini? … ulang-ulangi ya omongan ini? … ulang-ulangi ya omongan ini? ….ulang-ulangi ya omongan ini?

Kalau kutipan di atas itu menurut saya benar-benar gabungan yang apik antara kebijaksanaan sehari-hari dengan pengetahuan trivia yang penting tentang (anak-anak) hyena yang tak kenal kawan dan lawan dan tak kenal pacar tak kenal ibu. Amboi… jahat bukan buatan. Dilematis! Dilematis! (apa saya sudah kedengaran kayak Andrae? hehehe)

Tapi…yang jelas, saya bayangkan Andrea Hirata, di saat-saat lain, menuliskan kata-katanya yang bernada agak dibuat-buat dan iseng serta lucu dengan cekikikan sendiri di depan komputernya. Bahkan mungkin, saat dia temukan kata-kata yang lucu sekali, dia akan menggebrak-gebrak mejanya nggak kuat menahan tawa. Btw, kalimat mana yang saya maksud itu? Nantilah, akan saya beberkan di sini (sekarang sibuk banget boooo’ belum sempat tidur dan ngimpi dengan jenak…).

Postingan kilat selanjutnya adalah potensi “riset” sastra yang ada dalam tetralogi (yang baru tiga) Laskar Pelangi. Tunggu ya, bo’….

Tags: ,

Perlahan Lebih Nikmat: Masih tentang Andrea

Ada yang perlu saya bocorkan di sini: cara nikmat menikmati Andrea Hirata. Cara nikmat menikmati Andrea adalah: DENGAN MEMBACANYA PELAN-PELAN. Pelan-pelan di sini adalah dengan tidak terlalu buru-buru menyelesaikan si buku.

Kenapa begitu?

Wah, kalau pertanyaannya begitu, sementara alasan saya adalah begini:

karena Andrea adalah orang yang pinter membikin orang meringis pada setiap lembar demi lembar. Nah, kalo melihat kualitas ini, membaca pelan-pelan (sekali baca 20-30 halaman) akan membuat kita punya cukup banyak waktu untuk merenung-renung apa yang tadi membuat kita meringis-ringis sendiri (oh ya, saya ingin bilang kalau NOVEL ANDREA MEMILIKI DAYA RINGIS YANG SANGAT KUAT!!). Dengan begitu, hal-hal lucu atau menggetarkan yang ada di dalam cerpen jadi lebih bisa tertancap di hati dan pikiran kita. Kalau kita membaca dengan gaya cepat (semalam selesai), sepertinya akan banyak yang hilang (tergerus lupa), kecuali kalau kita orangnya punya ingatan kuat. :D

Akhirul posting, saya jadi bertanya-tanya kok bisa-bisanya saya pakai mengajari cara membaca buku segala? hahahahaha…. Sudahlah, saya cuman ingin seperti hari-hari biasanya, berbagi mimpi. Well, Anda kan tahu saya lagi menjalani proses menjadi seorang novelis, jadi membaca pun saya ingin seefisien mungkin, semaksimal mungkin daya tangkapnya, dan selama mungkin teringatnya.

Begitulah sesi ngimpi kita hari ini, Saudara-saudara. Salam at malam.

Tags: ,