a Kontinuous attempt despite typos … since 2007 (halah!)

Posts Tagged ‘musik’

Tidak Hanya Tampil di Penjara, Tapi

Saya kenal Johnny Cash lewat Jehangir Tabari, si punker sufi dalam novel The Taqwacores. Jehangir mengidolakan Johnny Cash yang katanya “bisa bicara dengan semua orang.” Dia menganggap Johnny Cash memiliki cinta yang luar biasa besarnya kepada sesama manusia. Saking gandrungnya Jehangir sama Johnny Cash, dia sampai ngimpi sore-sore ketemu Johnny Cash di bar yang menjadi setting dalam lagu “A Boy Named Sue” (yang beberapa waktu berselang sempat saya terjemahkan jadi “Lelaki Bernama Susi” di salah satu jamaah note facebook ini). Jehangir ternyata sangat suka sama lagu-lagunya Johnny Cash yang dari album “At San Quentin.” Saya masih bertanya-tanya, apa yang dimaksud Jehangir dengan “Johnny Cash itu bisa bicara dengan semua orang.”

Ternyata, album “At San Quentin” (1969) itu adalah album yang direkam dari konser live Johnny Cash di penjara San Quentin. Dan ternyata, bukan hanya satu album Johnny Cash yang direkam dari konser di penjara. Ada lagi lagu “At Folsom Prison” (1968). Nah, mulailah ketahuan, ternyata yang dimaksud Jehangir bahwa Johnny Cash bisa bicara dengan semua orang itu adalah karena Johnny Cash ini selain sangat terkenal di kalangan penggemar musik pada umumnya, dia juga ternyata dia juga mau bicara sama narapidana. Belakangan, dari riset yang mendalam (maksud saya membaca artikel wikipedia secara seksama, hahaha…) saya ketahui bahwa Johnny Cash memang sejak awal peduli dengan nasib para tahanan yang kurang hiburan dan menjalani hidup selalu dalam remang-remang tembok lapas yang gagah berduri.

Eh, sebentar, bukannya sebelum-sebelumnya ada banyak artis yang pernah manggung di penjara?
Tunggu dulu, kawan. Tidak sesederhana itu urusannya kalau kita ngomong soal “album-album penjara”-nya Johnny Cash. Johnny Cash benar-benar menghibur para napi tidak hanya dengan kehadirannya (maksud saya, tidak hanya dengan manggung di penjara dengan lagu-lagu hits yang biasanya dia mainkan untuk para fans standar), tapi dia juga menyajikan lagu-lagu khusus yang temanya tak jauh-jauh dari kehidupan para napi. Kalau yang ini saya ketahui belakangan setelah saya mendapatkan kedua album penjara itu (“At San Quentin” sama “At Folsom Prison”) berkat kedisiplininan saya menunggu di pinggir kali, mengubah diri menjadi lintah, dan menikmati belas kasihan siapa-siapa yang kebetulan lewat pinggir kali dan membawa serpihan demi serpihan kedua album itu, hingga akhirnya lengkaplah kedua album tersebut.

At Folsom Prison diawali dengan lagu “Folsom Prison Blues” yang menceritakan tentang penderitaan seorang napi di Folsom Prison saat terdengar suara kereta mendekat dan lewat rel kereta yang membentang tak jauh dari LP Folsom. Si napi langsung teriris hatinya saat terdengar suara kereta yang mendekat, menikuk, dan membayangkan di dalamnya orang-orang pasti sedang nyantai sambil merem. Dia bayangkan juga orang-orang yang sedang makan di restorasi di kereta api itu. Ah, enak sekali mereka, bisa makan dan merokok cerutu dan menikmati perjalanan berkereta membelah daratan Amerika, sementara dia sudah lama nggak berkesempatan melihat matahari. Alhasil, si napi berangan-angan kalau nanti dia bebas nanti, kalau rel kereta itu punya mbahnya, dia akan pindahkan agar jauh dari LP Folsom, biar nggak menyiksa dia.

Selanjutnya ada lagu Busted, bercerita tentang orang yang digrebek polisi, padahal anak dan istrinya menunggu di rumah, kena flu, ternaknya menunggu di kandang, dia ditahan karena tagihan rekeningnya sudah nunggak. Lagu yang super pendek ini disambut dengan sorak gembira para tahanan Folsom. Setelah “Busted,” datanglah lagu “Dark as the Dungeon” yang berkisah tentang kelamnya hidup di pertambangan, kelam seperti penjara bawah tanah yang tak kena sinar matahari. Lagu ini semacam lagu folks “come all yous” Irlandia yang mellow dan di tengah-tengahnya dia ada becanda dengan para tahanan, dia bilang “sebenarnya kalau nyanyi nggak boleh tertawa” dan di akhir lagu dia kembali bicara dengan para fansnya sambil bilang “penampilan ini direkam, jadi saya tidak boleh mengumpat, tapi biar saja deh, nanti juga dihapus” (dan ternyata tidak dihapus kan? ).

Masih ada lagu-lagu lain dalam album itu. Total ada 19 lagu, tapi tentu saja tidak bisa saya rangkum sekilas satu persatu dalam jamaah yang sangat singkat dan terbatas ini (kalau saya bahas, terus kapan saya tidurnya? ).
mau baca lanjutannya? klik saja

Tags: ,