a Kontinuous attempt despite typos … since 2007 (halah!)

Posts Tagged ‘non fiksi kreatif’

Bom Buku

Lebaran tinggal dua hari lagi, Oomku yang suka pakai kopyah dan kayaknya ikut semacam jamaah itu pulang kampung. Dia berjenggot dan rambutnya semakin tipis. Dia terkenal paling suka wiridan di antara paman-paman dan bibiku yang lain.

‘Kita akan bikin bom,’ katanya.

Dia bilang kepada aku dan Yoyok. Dan karena aku dan Yoyok adalah dua bocah 10 tahunan, tentu saja respon kami sudah bisa ditebak.

‘Kapan Oom?’ tanya kami dengan wajah berbinar.

‘Hari ini juga,’ katanya santai. ‘Punya buku yang nggak dipakai lagi nggak?’

Tentu saja kami tidak bisa menjawabnya. Kami ini anak sekolah, mana mungkin punya buku yg nggak dipakai lagi. Aku sendiri sangat suka menggambar, segala macam buku sisa akan aku santap untuk menggambar Voltus, Gaban, dan segala jenis robot yg bahkan belum pernah dilihat orang.

Akhirnya Oom memutuskan untuk mencari sendiri ke lemari cokelat di kamar depan rumah nenekku. Dia temukan di sana beberapa buku tebal semacam buku agenda, dia lihat2 sekilas di situ ada catatan2 coretan tangan. Memang itu buku harian. Dia bolak-balik sebentar dan sepertinya dia tidak mau memakai buku itu untuk bom.

‘Buku apa itu, Oom?’ tanyaku.

‘Buku harianku dulu,’ jawabnya. ‘Ini dari tahun waktu sakit dulu.’

Aku ingat dulu Oom-ku ini pernah sakit tipes. Aku tidak ingat betul kapan pastinya, tapi kira-kira waktu aku lebih kecil lagi. Aku ingat pernah diajak ibuk membezuk dia di rumah sakit Sidoarjo, melewati pagar tembok rumah sakit yg kelihatan perkasa dan pelataran rumah sakit seingatku jauh lebih rendah dari trotoar yg ada di luar pagar. Aku baca buku hariannya itu sekilas, tahunnya 1986, dan dari situ aku tahu kalau pada tahun itu lebaran pas musim liburan Juni-Juli.

‘Lha, kok baca? Ayo cari buku dua buat bikin bom,’ katanya. ‘Bacanya nanti aja.’

Kami cari2 terus di lemari agak ringkih di sebelah kanan. Aku menemukan semacam buku bon, atau lebih tepatnya buku faktur pembelian. Bukunya berukuran relatif kecil memanjang, mirip buku kuitansi. Ada beberapa buah di situ. Aku tunjukkan ke Oom.

‘Bentar, tak periksa dulu,’ dia membolak balik halamannya. ‘Oke, ini sudah nggak dipakai, ada tulisan tahunnya, jadi nggak bisa dipakai lagi.’

Dia pun kembali beraksi, meminta aku dan Yoyok menyobek semua halaman buku bon itu. Selain buku2 itu, dia minta kami menggunting koran2 bekas yang ada di lemari dengan ukuran lebar sama dengan buku-buku bon itu.

Sementara itu, dia lari ke dapur, katanya mau bikin lem. Pasti yg dimaksud bikin lem itu adalah mencampur air dengan tepung tapioka dan memanaskannya sampai kental dan lengket.

Sekitar lima belas menit kemudian dia datang membaca piring seng yg berisi lem kanji. Karena aku dam Yoyok belum selesai menggunting2 buku bon dan koran2 itu akhirnya dia membantu kami. Tak seberapa lama kemudian, selesailah semua buku bon dan koran yg diperlukan. Kami sekarang punya potongan2 koran yg panjang dengan lebar sekitar 10 sentimeter dan panjangnya sepanjang halaman koran dibuka.

Oom meminta aku dan Yoyok mengelem kertas2 koran itu agar bersambung menjadi kertas yang panjang. Dia sendiri bertugas menyambung kertas2 dari buku bon. Setelah cukup lama, akhirnya selesai juga urusan mengelem kertas itu. Kemudian kami menjemur gulungan kertas itu di teras rumah yg kebetulan ketika itu terkena panas.

Sore harinya, Oom mengumpulkan aku dan Yoyok lagi.

‘Ini saatnya beraksi,’ katanya.

Dia bawa pulpen pilot dan mulai menggulungkan kertas buku bon yang sudah jadi kertas panjang itu membungkus pulpen. Dia berhati2 agar gulungannya rapat. Setelah habis kertas bom tadi, dia pun ganti melanjutkannya dengan kertas koran panjang. Setelah setengah jam yg dipenuhi ketegangan karena memperhatikan betapa seksamanya dia menggulung kertas itu, akhirnya selesai pulalah urusan menggulung itu.

Kini kami punya silinder kertas yang padat dengan diameter tak kurang dari 7 centimeter. Di tengah silinder itu terdapat lubang seukuran pensil. Di salah satu ujung silinder, dia tekan2kan pensilnya ke kertas silinder sehingga akhirnya buntulah lubang pulpen yg ada di sebelah itu.

Dia lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Yaitu bungkusan plastik berisi mercon2 cabe. Kami menyebutnya mercon lombok. Mercon mungil yang panjangnya tak lebih dari satu jari tapi suaranya lumayan menggelegar itu. Ada beberapa bungkus mercon di situ, tiap bungkus berisi sepuluh batang, kadang sebelas, tergantung kebaikan hati produsen.

Dia menjelaskan kepada kami apa yang akan dia lakukan dengan mercon2 itu. Tapi karena menurut saya penjelasan semacam itu kurang efisien, jadi akan saya tunjukkan langsung apa yang kemudian dia lakukan dengan mercon2 itu.

Dia bentang koran di atas lantai. Kali itu kami sudah kembali ke kamar depan rumah mbahku yg relatif tidak pernah dipakai tidur kecuali pada malam hari. Oom mengambil sebatang mercon lombok dan melepaskan sumbunya dan selanjutnya mengeluarkan bubuk mesiunya. Ternyata, mercon yang salakannya cukup kuat itu berisi kurang dari sejumput bubuk peledak. Dia tuang bubuk mercon itu ke atas koran dan dia taruh sumbunya di satu sudut koran tersendiri. Dia buka terus satu persatu mercon itu dan mengeluarkan isinya. Dia sendiri yang melakukan itu. Dia sambung2 sumbu dari mercon2 lombok itu untuk dijadikan sumbu buat bom baru kami ini. Aku dan Yoyok hanya jadi penonton setia yang tak banyak bicara.

Entah berapa bungkus mercon yang bubuk mesiunya kami pakai untuk mengisi lubang pulpen di silinder kertas kami. Yang jelas sangat banyak. Kami juga heran ternyata lobang seukuran pulpen itu isinya sama dengan beberapa bungkus pulpen.

Tidak bisa kami bayangkan sekuat apa bom kami itu nantinya.

‘Kita akan ledakkan di lapangan,’ kata Oom. ‘Tepat pada hari lebaran.’

Esok harinya, hari ketiga puluh Ramadhan, aku berpuasa seperti biasanya. Aku tidur siang dalam keadaan lapar luar biasa. Di dalam tidurku aku melihat gunung Galunggung meletus. Mercon-mercon beterbangan dari atas gunung Galunggung yang hitam. Ada gunung lain di sebelahnya, dan di antara gunung Galunggung yang meletus dan satu gunung lainnya terdapat matahari pagi mengintip cerah. Mercon berlompatam dari gunung Galunggung.

Keesokan harinya, Oom sholat Ied di lapangan. Agak unik, biasanya yang sholat Ied di lapangan itu adalah orang2 Muhammadiyah. Aku tidak tahu apa sebabnya kenapa dia sholat di lapangan. Saat pulang, dia bilang ke aku: ‘Kita ledakkan merconnya di lapangan SMA GAMA.’ Aku tahu yang dia maksud, pasti lapangan rumput bergelombang yang konon dulunya adalah milik kakekku.

Sore harinya, setelah kami keliling mengunjungi rumah para kerabat, ziarah ke makam mbah-mbah buyut dan mbah laki2ku, Oom pinjam motor Astrea 800 bapakku dan membonceng aku dan Yoyok. Tujuan kami adalah lapangan SMA GAMA.

Di TKP itu, dia memarkir Astra 800 bapakku di tepi lapangan rumput bergelombang, tepatnya di bawah salah satu pohon cemara yang berbaris memisahkan lapangan kecamatan Krembung dengan lapangan rumput bergelombang. Kami memilih bagian paling tengah lapangan rumput bergelombang itu untuk memasang bom kami. Setelah mempersiapkan posisi yang pas, Oom meminta aku dan Yoyok berlari ke arah sepeda motor. Dia keluarkan korek api dari saku belakang celana butut yang biasanya dia pakai khusus memancing atau menembak burung. Dia nyalakan sumbu dan langsung berlari ke arah kami.

“Bum! Wing, wing, wing!”

Begitulah ledakannya diikuti gema melengking oleh dinding-dinding SMA GAMA. Aku begitu takjub saat menyaksikan ledakannya dari balik sepeda motor. Tidak ada jamur ledakan. Yang ada hanya sebaran konfeti kotak-kotak warna putih dan abu-abu. Buku bon dan koran. Menyebar indah, mereka hingga radius 3-4 meter dari bom itu. Aku amat lagi. kira-kira konfeti yang menyebar itu berukuran sama, seperti potongan-potongan kertas memanjang berukuran kira-kira 1cmx10cm.

“Waduh!” seru Oom tiba-tiba. “Bisa-bisa pakde Manan marah-marah kalau tahu ini! Mati aku!”

Pakde Manan adalah tukang kebun SMA GAMA.

“Ya nanti sore saja kita unjung-unjung* ke pakde Manan,” kata Yoyok. “Kan tadi kita belum lair batin** sama pakde Manan?”

* silaturahmi lebaran

** mohon maaf lahir batin

Tags: ,

Di Sorot Laser Terakhir (3-habis)

Setelah menyelesaikan film Nowhere to Run dengan van Damme yang melarikan diri dari ledakan dan diterima dengan lapang dada oleh seorang wanita baik-baik tapi akhirnya kebaikbaikannya berkurang karena mulai berhubungan dengan van Damme itu, aku dan teman-teman berniat melanjutkan perjalanan kami di Sabtu malam Minggu itu. Kami akan mengunjungi TKP terakhir tempat pertunjukan laser. Tepatnya di Desa Lemujut. Dari Dusun Bawang Desa Rejeni, kami akan berjalan ke arah barat sejauh kira-kira dua kilometer (belakangan, aku cek di google map, ternyata jarak yang aku tempuh ini sekitar 3,3 kilometer).

Dari jalan tanah (atau tepatnya sirtu, campuran pasir dan batu) di Desa Bawang tepat laser ditayangkan, kami harus berjalan dulu ke utara sekitar seratus meter, dan sampailah kami ke jalan besar Porong-Prambon. Kalau Anda suka ngebis Surabaya – Malang di zaman Pasca Lapindo ini, mungkin sesekali Anda pernah melewati jalan ini, terutama kalau di Porong ada demo. Anyways, ketika sandal-sandal jepit kami sudah menepuk jalan raya Porong-Prambon, kami belok ke arah barat lewat pinggir jalan besar itu. Saat berjalan sekitar 300-an meter di jalan besar itu, kami ketemu perempatan Dusun Pakem, tetap Desa Rejeni. Perempatan ini terkadang lebih dikenal sebagai perempatan Wak Barnawi, dari nama pemilik warung sate di perempatan itu, di pinggir sawah.
mau menyaksikan keseraman yang lebih ganas? klik di sini kalau iya

Tags: ,

Tiga Laser dalam Semalam (2)

Setelah puas dengan Asmuni yang bertema agak-agak panas di Dusun Buntut, Desa Mojoruntut, akhirnya aku dan teman-teman melanjutkan perjalanan. Kali ini tujuannya adalah Dusun Bawang, Desa Rejeni. Btw, mungkin kalian mengira aku memfiksikan nama-nama dusun ini. Tapi percayalah, Sodara, sidoarjo dipenuhi nama-nama desa yang sifatnya agraris, sangat kental dengan tanaman dan ternak. Dusun Bawang kira-kira berjarak kira-kira setengah kilo dari TKP di Dusun Buntut tadi.

Di kesunyian jam 11-an malam, kami susuri jalanan aspal yang pada siang harinya selalu aku lewati dengan naik sepeda gunung berjudul “Eclipse” (btw, ini tahun 15 STS, Sebelum Twilight Saga, lho ya?) untuk ke sekolah di SMP 1 Krembung. Malam itu sepi. Angin semilir menggemerisikkan daun-daun dari segala jenis pepohonan yang selalu ada di halaman depan rumah orang-orang Dusun Buntut. Oh ya, kita di sini lagi ngomong kehidupan desa, tapi bukan desa-desa eksotis kayak yang di cerita-cerita, yang halamannya luas, rumahnya masih kayu dan punya pendopo besar, dan orang-orangnya kerja di sawah atau anak-anak kecilnya suka naik kebo sambil main seruling. Di desa ini, jalanan aspal sangat rapi, meskipun bukan aspal Korea. Rumah-rumah relatif rapat dan sebagian ada yang punya pelataran ubin, biasanya buat menjemur kedelai hasil panen atau gabah. Hanya ada satu atau dua rumah saja yang masih berbentuk pendopo besar. Meskipun banyak penduduknya yang petani, sepertinya lebih banyak lagi yang bekerja di pabrik (mulai pabrik gula Krembung, pabrik2 segala rupa di Ngoro Industry Park, atau pabrik2 di kawasan jalur Surabaya Malang). Dan anak-anaknya nggak ada yang naik kebo (kecuali kalau lagi kesurupan, mungkin :D ).
pingin lanjut baca? klik saja di sini, monggo…

Tags: ,

Sorotan Laser di Malam Minggu (1)

Laser sedang nge-trend ketika itu, ketika aku kelas tiga SMP. Hampir setiap Sabtu malam Minggu ada orang hajatan dan “laser” diputar. Beberapa teman bilang kalau laser itu tidak bisa disensor, makanya banyak di antara film laser yang diputar itu agak-agak gimana begitu. Dan selama beberapa minggu berturut-turut, entah bulan apa waktu itu, laser tidak pernah absen dari kehidupan malam minggu kami. Saya tidak ingat apa musimnya, yang pasti tidak ada salju di Sidoarjo pada hari-hari itu. Dan tentunya masih belum ada lumpur. Ketika itu sekitar tahun 1994-5.

Tapi, kalau melihat frekuensi hajatan ketika itu, kalau nggak salah saat itu adalah pasca Idul Adha, bulan “besar,” bulannya orang hajatan.

Di antara malam-malam penuh sorot laser itu, ada satu malam yang tak pernah aku lupa. Tentu saja sebuah malam minggu. Setelah turun dari Sholat Isya’ aku dan beberapa teman janjian ketemu lagi dalam beberapa jam di kamar langgar. Kamar langgar itu adalah sebuah bilik di bagian depan langgar, tepat di sebelah imaman. Beberapa tahun sebelumnya, tempat itu biasanya dipakai oleh guru ngaji saya untuk istirahat di antara jam-jam ngajar ngajinya. Tapi, karena satu lain hal, guru ngaji saya itu pulang lagi ke kampung halamannya, di salah satu pelosok kediri. Dalam keadaan zonder guru ngaji itulah, kami lontang-lantung, tak ada kegiatan berarti selain nongkrang-nongkrong.

Sekitar pukul 9 kami berkumpul di kamar langgar. Setelah ngobrol ngalor ngidul berbagi informasi lokasi laser (waktu itu belum ada twitter atau facebook, yang mestinya bisa memberi kami informasi lokasi-lokasi penting laser), kami langsung memutuskan ke lokasi pertama: Dusun Buntut, Desa Mojoruntut. Jarak Dusun Buntut itu dari langgar kami sekitar 1.5 kilo, melewati lapangan sepakbola desa kami dan selanjutnya kawasan perkampungan dengan jalan aspal, cukup sepi. Hanya ada satu kuburan yang perlu dilewati, itu pun di dekat perkampungan.

Setelah beberapa saat, kami pun tiba di desa Buntut. Dengan hanya beberapa menit menajamkan telinga, kami bisa mendeteksi lokasi hajatan yang memutar laser itu. Begitu tiba di TKP saya sudah banyak orang yang rata-rata melongo menyaksikan layar tak terlalu lebar di tengah jalan makadam. Seingatku itu acara sunatan. Si anak tersunat sedang duduk nyantai di teras rumahnya yang sangat terang dengan lampu TL panjang dan kertas krep menggantung-gantung. Di kaca rumah terlihat tulisan “Sugeng Rawuh” atau “Welcome.”
lanjutannya lebih ganas lho, klik saja di sini

Tags: ,