March
Bom Buku
Posted by wawan at 4:23 PM. Placed in macem-macem category
Lebaran tinggal dua hari lagi, Oomku yang suka pakai kopyah dan kayaknya ikut semacam jamaah itu pulang kampung. Dia berjenggot dan rambutnya semakin tipis. Dia terkenal paling suka wiridan di antara paman-paman dan bibiku yang lain.
‘Kita akan bikin bom,’ katanya.
Dia bilang kepada aku dan Yoyok. Dan karena aku dan Yoyok adalah dua bocah 10 tahunan, tentu saja respon kami sudah bisa ditebak.
‘Kapan Oom?’ tanya kami dengan wajah berbinar.
‘Hari ini juga,’ katanya santai. ‘Punya buku yang nggak dipakai lagi nggak?’
Tentu saja kami tidak bisa menjawabnya. Kami ini anak sekolah, mana mungkin punya buku yg nggak dipakai lagi. Aku sendiri sangat suka menggambar, segala macam buku sisa akan aku santap untuk menggambar Voltus, Gaban, dan segala jenis robot yg bahkan belum pernah dilihat orang.
Akhirnya Oom memutuskan untuk mencari sendiri ke lemari cokelat di kamar depan rumah nenekku. Dia temukan di sana beberapa buku tebal semacam buku agenda, dia lihat2 sekilas di situ ada catatan2 coretan tangan. Memang itu buku harian. Dia bolak-balik sebentar dan sepertinya dia tidak mau memakai buku itu untuk bom.
‘Buku apa itu, Oom?’ tanyaku.
‘Buku harianku dulu,’ jawabnya. ‘Ini dari tahun waktu sakit dulu.’
Aku ingat dulu Oom-ku ini pernah sakit tipes. Aku tidak ingat betul kapan pastinya, tapi kira-kira waktu aku lebih kecil lagi. Aku ingat pernah diajak ibuk membezuk dia di rumah sakit Sidoarjo, melewati pagar tembok rumah sakit yg kelihatan perkasa dan pelataran rumah sakit seingatku jauh lebih rendah dari trotoar yg ada di luar pagar. Aku baca buku hariannya itu sekilas, tahunnya 1986, dan dari situ aku tahu kalau pada tahun itu lebaran pas musim liburan Juni-Juli.
‘Lha, kok baca? Ayo cari buku dua buat bikin bom,’ katanya. ‘Bacanya nanti aja.’
Kami cari2 terus di lemari agak ringkih di sebelah kanan. Aku menemukan semacam buku bon, atau lebih tepatnya buku faktur pembelian. Bukunya berukuran relatif kecil memanjang, mirip buku kuitansi. Ada beberapa buah di situ. Aku tunjukkan ke Oom.
‘Bentar, tak periksa dulu,’ dia membolak balik halamannya. ‘Oke, ini sudah nggak dipakai, ada tulisan tahunnya, jadi nggak bisa dipakai lagi.’
Dia pun kembali beraksi, meminta aku dan Yoyok menyobek semua halaman buku bon itu. Selain buku2 itu, dia minta kami menggunting koran2 bekas yang ada di lemari dengan ukuran lebar sama dengan buku-buku bon itu.
Sementara itu, dia lari ke dapur, katanya mau bikin lem. Pasti yg dimaksud bikin lem itu adalah mencampur air dengan tepung tapioka dan memanaskannya sampai kental dan lengket.
Sekitar lima belas menit kemudian dia datang membaca piring seng yg berisi lem kanji. Karena aku dam Yoyok belum selesai menggunting2 buku bon dan koran2 itu akhirnya dia membantu kami. Tak seberapa lama kemudian, selesailah semua buku bon dan koran yg diperlukan. Kami sekarang punya potongan2 koran yg panjang dengan lebar sekitar 10 sentimeter dan panjangnya sepanjang halaman koran dibuka.
Oom meminta aku dan Yoyok mengelem kertas2 koran itu agar bersambung menjadi kertas yang panjang. Dia sendiri bertugas menyambung kertas2 dari buku bon. Setelah cukup lama, akhirnya selesai juga urusan mengelem kertas itu. Kemudian kami menjemur gulungan kertas itu di teras rumah yg kebetulan ketika itu terkena panas.
Sore harinya, Oom mengumpulkan aku dan Yoyok lagi.
‘Ini saatnya beraksi,’ katanya.
Dia bawa pulpen pilot dan mulai menggulungkan kertas buku bon yang sudah jadi kertas panjang itu membungkus pulpen. Dia berhati2 agar gulungannya rapat. Setelah habis kertas bom tadi, dia pun ganti melanjutkannya dengan kertas koran panjang. Setelah setengah jam yg dipenuhi ketegangan karena memperhatikan betapa seksamanya dia menggulung kertas itu, akhirnya selesai pulalah urusan menggulung itu.
Kini kami punya silinder kertas yang padat dengan diameter tak kurang dari 7 centimeter. Di tengah silinder itu terdapat lubang seukuran pensil. Di salah satu ujung silinder, dia tekan2kan pensilnya ke kertas silinder sehingga akhirnya buntulah lubang pulpen yg ada di sebelah itu.
Dia lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Yaitu bungkusan plastik berisi mercon2 cabe. Kami menyebutnya mercon lombok. Mercon mungil yang panjangnya tak lebih dari satu jari tapi suaranya lumayan menggelegar itu. Ada beberapa bungkus mercon di situ, tiap bungkus berisi sepuluh batang, kadang sebelas, tergantung kebaikan hati produsen.
Dia menjelaskan kepada kami apa yang akan dia lakukan dengan mercon2 itu. Tapi karena menurut saya penjelasan semacam itu kurang efisien, jadi akan saya tunjukkan langsung apa yang kemudian dia lakukan dengan mercon2 itu.
Dia bentang koran di atas lantai. Kali itu kami sudah kembali ke kamar depan rumah mbahku yg relatif tidak pernah dipakai tidur kecuali pada malam hari. Oom mengambil sebatang mercon lombok dan melepaskan sumbunya dan selanjutnya mengeluarkan bubuk mesiunya. Ternyata, mercon yang salakannya cukup kuat itu berisi kurang dari sejumput bubuk peledak. Dia tuang bubuk mercon itu ke atas koran dan dia taruh sumbunya di satu sudut koran tersendiri. Dia buka terus satu persatu mercon itu dan mengeluarkan isinya. Dia sendiri yang melakukan itu. Dia sambung2 sumbu dari mercon2 lombok itu untuk dijadikan sumbu buat bom baru kami ini. Aku dan Yoyok hanya jadi penonton setia yang tak banyak bicara.
Entah berapa bungkus mercon yang bubuk mesiunya kami pakai untuk mengisi lubang pulpen di silinder kertas kami. Yang jelas sangat banyak. Kami juga heran ternyata lobang seukuran pulpen itu isinya sama dengan beberapa bungkus pulpen.
Tidak bisa kami bayangkan sekuat apa bom kami itu nantinya.
‘Kita akan ledakkan di lapangan,’ kata Oom. ‘Tepat pada hari lebaran.’
Esok harinya, hari ketiga puluh Ramadhan, aku berpuasa seperti biasanya. Aku tidur siang dalam keadaan lapar luar biasa. Di dalam tidurku aku melihat gunung Galunggung meletus. Mercon-mercon beterbangan dari atas gunung Galunggung yang hitam. Ada gunung lain di sebelahnya, dan di antara gunung Galunggung yang meletus dan satu gunung lainnya terdapat matahari pagi mengintip cerah. Mercon berlompatam dari gunung Galunggung.
Keesokan harinya, Oom sholat Ied di lapangan. Agak unik, biasanya yang sholat Ied di lapangan itu adalah orang2 Muhammadiyah. Aku tidak tahu apa sebabnya kenapa dia sholat di lapangan. Saat pulang, dia bilang ke aku: ‘Kita ledakkan merconnya di lapangan SMA GAMA.’ Aku tahu yang dia maksud, pasti lapangan rumput bergelombang yang konon dulunya adalah milik kakekku.
Sore harinya, setelah kami keliling mengunjungi rumah para kerabat, ziarah ke makam mbah-mbah buyut dan mbah laki2ku, Oom pinjam motor Astrea 800 bapakku dan membonceng aku dan Yoyok. Tujuan kami adalah lapangan SMA GAMA.
Di TKP itu, dia memarkir Astra 800 bapakku di tepi lapangan rumput bergelombang, tepatnya di bawah salah satu pohon cemara yang berbaris memisahkan lapangan kecamatan Krembung dengan lapangan rumput bergelombang. Kami memilih bagian paling tengah lapangan rumput bergelombang itu untuk memasang bom kami. Setelah mempersiapkan posisi yang pas, Oom meminta aku dan Yoyok berlari ke arah sepeda motor. Dia keluarkan korek api dari saku belakang celana butut yang biasanya dia pakai khusus memancing atau menembak burung. Dia nyalakan sumbu dan langsung berlari ke arah kami.
“Bum! Wing, wing, wing!”
Begitulah ledakannya diikuti gema melengking oleh dinding-dinding SMA GAMA. Aku begitu takjub saat menyaksikan ledakannya dari balik sepeda motor. Tidak ada jamur ledakan. Yang ada hanya sebaran konfeti kotak-kotak warna putih dan abu-abu. Buku bon dan koran. Menyebar indah, mereka hingga radius 3-4 meter dari bom itu. Aku amat lagi. kira-kira konfeti yang menyebar itu berukuran sama, seperti potongan-potongan kertas memanjang berukuran kira-kira 1cmx10cm.
“Waduh!” seru Oom tiba-tiba. “Bisa-bisa pakde Manan marah-marah kalau tahu ini! Mati aku!”
Pakde Manan adalah tukang kebun SMA GAMA.
“Ya nanti sore saja kita unjung-unjung* ke pakde Manan,” kata Yoyok. “Kan tadi kita belum lair batin** sama pakde Manan?”
* silaturahmi lebaran
** mohon maaf lahir batin