December
Riwayat Sang Kiai dengan Bonus Track Sejarah Negeri
Posted by wawan at 11:57 AM. Placed in macem-macem category
Sebuah novel sejarah punya tugas ganda, menghadirkan kisah fiksi yang bisa dinikmati dan memainkan imajinasi pembacanya sekaligus sebisa mungkin menghadirkan konteks sejarah yang digambarkan. Sang Pencerah berhasil mengupayakan kedua hal tersebut dari sudut pandang modern. Dia berhasil menghadirkan sosok Kiai Haji Ahmad Dahlan sebagai seorang pribadi yang utuh sekaligus menggambarkan konteks yang melingkupi kehidupannya.
Sang Pencerah dibuka dengan pertemuan Kiai Ahmad Dahlan dengan Sultan Hamengkubuwono XII yang menyarankan kepadanya agar naik haji untuk menimba lebih banyak ilmu tentang pemikiran Islam pembaharu yang sedang marak di tanah Arab. Sultan juga menghubungkannya dengan keadaan di tanah Jawa di mana para cerdik pandai mulai mengadakan pergerakan dan membuka organisasi untuk pembaruan, dan meminta sang kiai sendiri melakukan hal yang sama dalam bidang agama. Di sini, terlihatlah bahwa Sang Pencerah menegaskan sejak awal bahwa ia adalah kisah tentang seorang ulama yang sekaligus turut andil dalam kehidupan sosial pada konteks jamannya. Membaca novel ini dalam dua-tiga minggu terakhir, ketika gempar isu “monarki Yogya,” pasti akan timbul pikiran nakal: ah, jangan-jangan Akmal Nasery Basral, penulis novel ini, ingin mengingatkan tentang keistimewaan Yogyakarta? Itu hanya pikiran nakal. Akmal mulai menulis novel ini setahun sebelum isu terakhir itu muncul.
Selanjutnya kisah pun dimulai dengan kembali ke masa kecil Kiai Ahmad Dahlan, yang saat itu masih bernama Muhammad Darwis. Kisah-kisah ini pun dibuat tidak lepas dari pemikiran-pemikiran pembaharu sang Kiai kelak di masa depan. Pada suatu peringatan 40 hari kematian ayah temannya, Darwis melihat bagaimana tuan rumah harus meminjam uang dari rentenir untuk membiayai acara tersebut. Setelah digali lebih jauh, ternyata peringatan 40 hari kematian itu bukan sesuatu yang murni dari ajaran Rasulullah Muhammad, tapi di masyarakat Islam Jawa sudah dianggap sebagai sesuatu yang harus dilakukan. Gaya pandang serupa ini juga tampak pada sikap Darwis terhadap upacara nyadran, padusan, dan lain-lain, yang meskipun akarnya adalah budaya Jawa, sudah dianggap sebagai bagian dari hukum Islam yang tidak boleh ditinggalkan.
silakan klik kalau pingin lanjut
Tags: novel sejarah