November
Suvenir Sastra Pelancongan
Posted by wawan at 9:19 PM. Placed in macem-macem category
‘Jalan-jalan itu penting, dan sastrawan suka jalan-jalan. Buktinya, sejak ribuan tahun yang lalu, perjalanan telah menjadi elemen yang penting dalam banyak karya sastra. Contohnya antara lain epik Odyssey (kira-kira 850 SM ) Homer dan Gilgamesh (diperkirakan sekitar abad ke-20 SM). Belakangan, catatan perjalanan murni akhirnya dianggap memiliki elemen sastra. Orang-orang memperlakukan catatan perjalanan Ibn Battuta, seorang agamawan asal Maroko dari abad ke-12 yang berkelana hingga sejauh Cina–yang artinya semua bagian dunia yang diketahui orang waktu itu–sebagai karya sastra.
Selain dapat memberikan petualangan eksotis, karena ditempuh di tempat-tempat yang asing, karya-karya bertema perjalanan juga menawarkan informasi tentang adat dan kegiatan orang di tempat lain. Bahkan, karya-karya semacam ini berpotensi menanamkan gagasan kepada pembacanya, baik itu gagasan yang positif maupun yang negatif. Dan potensi ini telah dimanfaatkan orang sebelumnya
Pada masa kolonialisme Inggris, banyak prosa perjalanan yang ditulis orang-orang Inggris yang berkelana ke negara jajahannya seringkali memuat gagasan-gagasan yang mendukung kolonialisme. Karya-karya ini bisa menggambarkan para pribumi di negara jajahan mereka sebagai kaum yang “kurang beradab,” sehingga perlu diberadabkan melalui penjajahan. Terkadang, prosa perjalanan juga menggambarkan bagaimana kehadiran bangsa penjajah berhasil meningkatkan harkat hidup pribumi. Tapi ada juga penulis prosa perjalanan yang bersikap sebaliknya.
Tapi kini, setelah sebagian besar proyek kolonialisme selesai, banyak prosa perjalanan yang menawarkan ide-ide positif dan mencerahkan. Salah satu penyebabnya adalah bergantinya para penulis prosa perjalanan. Jika dulunya prosa ini banyak ditulis oleh “pria yang berkulit putih,” yang melambangkan kelompok mayoritas dari negara penjajah, kini prosa perjalanan menjadi lebih universal, ditulis oleh pria maupun wanita baik dari kelompok minoritas maupun mayoritas. Dan gagasan-gagasan yang ditawarkan pun tidak hanya gagasan anti atau pro penjajahan, tapi juga beragam gagasan mulai kesetaraan jender, ras, dan kelompok sosial hingga gagasan pro-lingkungan hidup. Gagasan-gagasan positif semacam ini juga tampak pada dua prosa perjalanan karya penulis Indonesia, yakni Supernova: Akar karya Dee dan Edensor karya Andrea Hirata.
Akar berkisah tentang perjalanan Bodhi mencari “kesejatian” yang dimulai dari sebuah biara kecil di dekat Lawang sampai ke beberapa negara lain di Asia Tenggara seperti misalnya Thailand, Burma, Kamboja. Dalam perjalanannya, Bodhi menemui beberapa orang dengan berbagai falsafah hidup. Dari mereka Bodhi sedikit demi sedikit membentuk dirinya. Pada akhirnya Bodhi kembali ke Indonesia dan hidup bersama komunitas punk di Bandung. Sementara itu, Edensor, buku ketiga dalam tetralogi Laskar Pelangi, mengisahkan masa-masa Ikal kuliah di Paris. Ada porsi yang cukup besar di buku ini yang khusus mengisahkan perjalanannya keliling Eropa ditambah kunjungan ke beberapa negara Afrika. Perjalanan Ikal ini dimotivasi oleh beberapa hal: 1) mimpi dari masa kecil yang ditumbuhkan oleh Pak Balia, yang mendorong mereka untuk dapat mengejar ilmu hingga ke Sorbonne dan menjelajahi dunia hingga ke Afrika, 2) obsesi untuk mencari cinta masa kecilnya, A Ling, yang Ikal duga berada di Eropa. Keinginan menemukan A Ling menjadi benang merah dalam perjalanan Ikal dalam buku ini.
Meskipun dituturkan oleh narator yang berbeda, mengisahkan perjalanan di tempat-tempat yang secara budaya berbeda, dan tujuan perjalanan yang juga berbeda, Akar dan Edensor memiliki beberapa kecenderungan yang sama. Pertama, perjalanan para tokoh ini dilandasi satu semangat yang sama: semangat pencarian. Bodhi melakukan pencarian atas “˜Kesejatian,”™ sesuatu yang benar-benar abstrak, yang hanya dapat ia temukan saat berkelana sejauh mungkin dari Vihara (Dee 39). Perjalanan ini memang wajib dia lakukan, karena tanpa “˜Kesejatian”™ dia tidak akan lengkap sebagai seorang pribadi. Sementara itu, di Edensor, perjalanan Ikal dipicu oleh keinginannya menjelajah sejauh mungkin dan bertujuan mencari A Ling, cinta masa kecil Ikal, yang berarti adalah sesuatu yang nyata. Begitulah perjalanan dimulai, tidak hanya sekedar jalan-jalan cari angin, tapi sekaligus mencari hikmah kehidupan. Dengan motif pencarian, kedua kisah ini mendudukkan perjalanan sebagai sesuatu yang tidak hanya enak ditempuh, tapi juga perlu.
Kedua, kedua kisah perjalanan ini mengobarkan keberanian menyongsong apa saja yang terjadi kepada kita, dan dengan tegar menghadapinya. Baik Bodhi maupun Ikal dengan tegas memilih untuk berkelana tidak dengan cara standar. Mereka bukan orang yang, seperti lazimnya turis atau pengelana, yang berkelana hanya sebagai sebuah rekreasi dengan segala kebutuhan ekonomi tercukupi. Mereka memilih menjadi backpacker dan bahkan bekerja di tempat-tempat yang mereka kunjungi, untuk menyokong kebutuhan mereka setiap harinya. Karena ini pula mereka tidak mengikuti paket wisata yang ditawarkan agen perjalanan, yang mengesankan sebuah perjalanan yang pasif.
Hasilnya, mereka mendapatkan berbagai pengalaman yang tidak didapatkan orang-orang yang berwisata secara standar. Bodhi berpengalaman melakukan berbagai pekerjaan, bertemu berbagai macam orang mulai dari memiliki sifat kekeluargaan sampai yang suka menguras uang, dan mendapatkan keahlian baru–meskipun dari sudut pandang moral beberapa keahlian Bodhi bisa diperdebatkan. Demikian juga dengan Ikal, dia berkesempatan mengunjungi berbagai tempat dan melakukan berbagai pekerjaan dan akhirnya dapat menemukan sebagian besar hal yang memotivasinya melakukan perjalanan. Kesiapan mereka menyongsong segala kesempatan yang datang di hadapan mereka, berkata “ya” kepada pilihan-pilihan yang hadir di hadapan mata, malah membuat mereka berkembang, mirip dengan moral dari film Yes Man yang dibintangi oleh Jim Carrey.
Ketiga, pertemuan dengan berbagai hal baru memicu mereka untuk melihat pada diri sendiri. Dalam hal ini, Edensor lebih vulgar dalam memberikan kritik, terutama kepada penguasa negeri. Cara para profesornya mengajarkan ilmu ekonomi membuat Ikal sangat menggemari ilmu tersebut dan menekuni teori Adam Smith. Dalam sebuah sesi melamun, Ikal melakukan wawancara imajiner dengan Adam Smith yang isinya adalah mengeluhkan tentang bobroknya perekonomian Indonesia jika dilihat dari sudut pandang ekonomi klasik:
“… Adakah orang-orang pintar di [Indonesia]?”
Pertanyaan yang sulit.
…
“Banyak, Tuan Smith. Di negeriku banyak sekali orang pintar, pintar mencuri uang negara.”
…
“Semua itu gara-gara kaum monetarist keparat itu!! … Kaum monetarist bersekongkol mengumpulkan uang agar negeri seperti kalian dapat berutang, lalu pelan-pelan negeri kalian tergadai! … tak ubahnya rentenir! Kolonial model baru! …” (Andrea Hirata 133-4)
Kritik yang lebih halus lainnya muncul ketika Ikal menerima surat dari ayahnya. Ayahnya yang mengeluhkan masalah pertanian dan kesehatan di Belitong kepada kedua anaknya di Perancis itu mengesankan kepasrahan warga Belitong, yang mungkin sudah putus asa dengan penanganan yang lambat dari pemerintah, sampai-sampai meminta putra daerahnya yang di Perancis untuk mempelajari bidang yang dapat langsung membantu mereka. Sepertinya, semua buku di tetralogi Laskar Pelangi adalah kritik yang kuat kepada pemerintah, atas kemiskinan warga Belitong, dan warga daerah-daerah tertinggal lainnya di Indonesia.
Terakhir, kedua perjalanan ini mengajak menikmati momen demi momen kehidupan, tidak hanya sekedar mengejar sebuah tujuan. Pada Akar, dikisahkan bagaimana Bodhi yang telah mencari di kawasan Asia Tenggara itu akhirnya ketemu lagi dengan awal perjalanannya dan merasa bahwa dalam sebuah perjalanan, dia akan mendapatkan pemahaman ketika dia sudah kembali ke awal perjalanannya. Di akhir cerita, Bodhi bukannya menjadi seorang yang puas setelah menemukan Kesejatian, tetapi menjadi anak punk, yang salah satu filosofi hidupnya adalah anti-kemapanan. Ini mengisyaratkan bahwa akhir novel ini bukanlah akhir perjalanan Bodhi. Bahkan, studio tempatnya rekaman yang telah menjadi aktivitas rutinnya selama beberapa waktu baru saja meledak, yang artinya dia harus beralih mencari kegiatan lain, atau setidaknya beralih ke tempat lain. Begitu juga dengan kisah perjalanan Ikal, di ujung perjalanannya, dia bertemu Suster Nadia yang mengajarkan padanya tentang arti pencarian:
Tiba-tiba ucapan Roxane Ling dan Suster Nadine terangkai dalam kepalaku menjadi sebuah filosofi pencarian, pencarian akan hal-hal yang paling kita inginkan dalam hidup ini dan pencarian akan diri kita sendiri … Karena jika kita berupaya sekuat tenaga menemukan sesuatu, dan pada titik akhir upaya itu hasilnya masih nihil, maka sebenarnya kita telah menemukan apa yang kita cari dalam diri kita sendiri, yakni kenyataan, kenyataan yang harus dihadapi, sepahit apapun keadaannya (Andrea Hirata 268)
Ini memang bukan ajaran baru dalam kisah perjalanan, karena dalam kisah Musyawarah Burung-burung karya pujangga Persia Fariduddin Attar di dari abad ke-12 juga memberikan hikmah seperti ini dari perjalanan para burung yang dikisahkan di dalamnya.
Akar dan Edensor ini berhasil menunjukkan hikmah-hikmah positif yang bisa ditawarkan oleh kisah perjalanan. Dia tidak hanya mendeskripsikan tempat-tempat indah di dunia atau menyajikan petualangan eksotis, tapi juga mengobarkan semangat yang tidak akan kita dapati jika kita hanya menjalani hidup dengan rutinitas yang biasa-biasa saja. Dengan kata lain, “oleh-oleh” dari sebuah kisah perjalanan tidak hanya foto-foto dan cerita-cerita saja, tapi juga suvenir hikmah. Ini benar-benar sesuai dengan kebiasaan orang Indonesia yang gemar oleh-oleh. Orang ibadah haji pun dituntut oleh-oleh. Bahkan, seperti kata seorang teman, “habis terdampar di pulau terpencil pun kalau pulang pasti ditanya tentangganya “˜Oleh-olehnya Mana?”™”
Sumber Bacaan
Dee. Supernova: Akar. Jakarta: Bark Communication. 2002. Cetak
Hirata, Andrea. Edensor. Yogyakarta: Bentang. 2007. Cetak
Holland, Patrick dan Graham Huggan. Tourists with Typewriters: Critical Reflections on Contemporary Travel Writing. Michigan: The University of Michigan Press. 1998. Cetak
MacCannell, Dean. The Tourist: A New Theory of the Leisure Class. California: The University of California Press. 1999. Cetak’